TUHAN, ajari aku cara berhenti mencintainya
Minggu, 26 Agustus 2012
Kamis, 23 Agustus 2012
Kiss me good-bye, love's memory
You say my love is all you need, to see you through
But I know these words are not quite true
Here is the path you're looking for, an open door
Leading to worlds you long to explore
Go, if you must move on alone
I'm gonna make it on my own
Tak banyak hal yang bisa ku lakukan saat ini, tak juga banyak hal besar yang terjadi sampai ada suara-suara sayup mengantarkan pesan bahwa tak kan pernah terjadi lagi saat dengan mu. Aku tersentak dari lamunan ku. Entah mengapa akhir-akhir ini aku terlalu sering mendengarkan lagu-lagu kesukaanmu. Walau yang akan tercipta adalah jatuhnya butiran-butiran air di sela-sela mataku. Aku pejamkan mataku kembali sambil menikmati alunan lagu itu. Sesak. Sakit. Terbayang jelas sosok mu, sedang memegang sebuah tab sambil menyanyikan lagu itu. Baju kaos coklat muda, celana jeans panjang. Sosok mu yang terkadang simple selalu menjadi daya tarik ku tersendiri. Aku suka. Aku suka itu. Aku beralih lagi, terekam ulang saat tawa-tawa kita berbagi cerita.
Aku sedang melihat sosokmu sedang lahap sekali menyantap makanan, malam itu kita duduk lesehan sambil bercerita satu sama lain. Sayup-sayup suaramu samar-samar terdengar.
" Aku pernah pulang ke Jogja naik kuda"
" Emang bisa po naik kuda? Gak jauh?"
" Ya, enggak lah. Malah cepet nyampenya"
" Iya po?"
" Iya, kan ada merk mobil 'kuda"
"-___-"
Kita pun tertawa sambil menikmati setiap santapan makanan.
Follow your heart and find your destiny
Won't she'd a tear, for love's mortality
For you put the dream in my reality
Aku sedang melihat sosokmu lagi. Kali ini kita sedang menikmati film Wrath of The Titans. Sekali-kali dentuman suara yang keras mengejutkan ku. Kau selalu tersenyum geli ketika aku mendadak terkejut. Kali ini aku yang mencuri-curi pandangan terhadap mu. Aku memerhatikan mata mu. Ya, terlihat dari samping.
" Kamu tidur ya?"
" Enggak kok".
"Loh kok nontonnya merem?"
"Siapa yang merem, dari tadi melek gini"
" Oh iya, kamu kan SIPIT jadi keliatannya kaya tidur, hahahaha"
" Aseemmm -__-"
I loved you enough to let you go free
Go, I will give you wings to fly
Cast all your fears into the sky
Potongan-potogan senyumanmu masih ku mainkan jelas. Sekarang aku melihat sosok mu yang sedang tertidur pulas. Ini bagian yang paling aku suka di kisah kita. Dari kejauhan ku pandangi wajahmu yang begitu membuat aku tersihir-sihir tepat pada hatiku. Takkan kulupa wajahmu saat tertidur. Takkan kulupa saat bibirmu menyentuh keningku. Saat itu ku putuskan, untuk mencintaimu sepenuh hatiku. Ya telah kutetapkan saat itu kau pemilik hatiku sepenuhnya.
Namun semua memori yang indah membawa ku tepat pada kejadian-kejadian buruk di kisah kita. Apalagi hidupku. kulihat senyum mu yang begitu indah perlahan semakin menghilang. Tawa mu yang begitu lepas perlahan memudar. Bahkan perhatianmu yang begitu dahsyat seketika hilang entah kemana. Saat itu dadaku sesak. Perlahan memori buruk itu menikam ku bagai pisau tajam yang baru saja di asah. Pertengkaran-pertengkaran kecil sampai besar menontonkan kisah kita. Sampai saat malam itu,
" Aku rasa kita udah gak cocok lagi!"
" Kenapa? Kamu mau akhirin semuanya?"
" Maaf, aku gak mau kita berantem terus"
" Kamu serius? Tega kamu"
" Jujur aku masih sayang, tapi aku gak mau kita tiap hari berantem terus"
Kiss me good-bye, love's mystery
All of my life I'll hold you close to me
....
Sudahlah, aku tak sanggup lagi menyaksikan kenangan pahit itu. Sangat pahit.Seketika memori terpotong aku membuka mataku kembali. Tersadar lagu yang ku dengarkan menuju nada terakhir. Aku mengelap air mataku yang berserakan di pipi. Kali ini aku tersentak, kau sudah menjauh. Dan aku kesepian. Mungkinkah perhatianmu telah kau berikan kepada sosok wanita lain. Aku semakin jatuh. Entah kapan akan bangkit. Selain sosok mu yang menyemangati. Kali ini di balik raut semnyum ku ada makna yang tersembunyi. Satu kata yang bernama "perih".
Won't she'd a tear for love's mortality
For you put the dream in my reality
Kiss me good-bye, love's memory
You put the dream in my reality
....
Pada akhirnya aku terjebak di dalam sebuah kamar gelap dengan ribuan memori tentangmu mengelilingiku dan menciptakan sesak di antara rasa kehilangan dan kesepian diiringi lagu yang senang kamu dengarkan. Dan aku tetap tahu bahwa semuanya akan berubah, begitu pula dengan diriku sendiri.
soundtrack : Angela Aki-kiss me good bye
Kamis, 16 Agustus 2012
Make a Wish : Lagi, Ku Sebut Namamu
MALAM ini penuh dengan dingin, entah mengapa aku masih tetap saja ingin berada diluar.
Malam. Aku suka malam cerah, aku suka bintang dan aku suka bulan.
Aku duduk ditemani hembusan angin yang selalu menusuk tulangku tanpa izin.
Aku mengerti beberapa hari belakangan aku menderita flu akut. Yah, tak lain aku selalu kencan dengan dingin malam. Bahkan tak mau aku melewati satu malam pun untuk duduk, berdiam diri, berfikir, dan merenung.
Entah mengapa malam ini pun aku belum mampu memfokuskan diri untuk tidak memikirkan tingkah dan namamu . Yah, kalau ini di masukan dalam kasus. Mungkin kamu lah menjadi terdakwa besar. Selalu mengacaukan fikiran ku disaat aku ingin memikirkan topik lain. Kamu sama lucunya dengan hal yang bernama 'cinta' yang selalu enggan menjauh ketika ku usir dalam otakku. Mungkin 'cinta' = 'kamu' terkadang aku ingin merubahnya seperti ini 'cinta' ≠ 'kamu', tapi sulit, lucu, unik. Entah mengapa kau juga sama halnya dengan kata 'lucu', 'unik'. Mengapa? kamu yang begitu mengecewakan ku masih bisa saja mendapatkan hatiku. Kita sudah putus mungkin juga sudah berpisah. Tapi kamu masih saja begitu memperhatikan ku, terkadang hal ini yang semakin menjadi sesuatu rumit untukku untuk melupakan tentang mu. Kadang aku tertawa geli sekaligus senang. Mungkinkah kamu begitu karena terlalu kasihan melihat ku. Sudahlah, sudah. Hapus rasa kasihan mu. Jika ku tahu, kamu lakukan itu hanya karena rasa kasihan lebih baik detik ini juga aku enggan mengenal mu.
Yah, itulah yang ku pikirkan di malam yang penuh dengan dingin ini. Kamu selalu saja menjadi menu utama di dalam otak ku. Lucu dan sangat unik. Bintang dan bulan pun mungkin tersenyum bengis melihat ku setiap malam yang tak mampu menekan tombol 'next' untuk mengganti topik lain. Kali ini mungkin bintang di langitlah yang akan tertawa terbahak-bahak mendengar doaku. Yah, kulihat bintang jatuh. Mataku terbelalak tak percaya. Cepat- cepat 'make a wish' ku lantunkan didalam hatiku "Bintang, sampaikan pada Tuhan aku rindu pada dia (nama yang kusebut SNH). Semoga dia tetap menjadi bintang hatiku yang tak berubah. Tetap memperhatikan ku walau kita tak satu lagi. Amin"
Batam :)
withlove
Rafika
Senin, 13 Agustus 2012
Tuhan, Dia Akhiri Cerita Cinta
Tuhan, maafkan aku menyapa Mu dengan diri yang sedih dan pedih.
Masih tentang hal yang sama. DIA.
Ya, Dia masih menjadi topik utama dalam hidupku.
Sungguh walau menyakitkan aku tak ingin mengganti topik. Tentang Dia. Orang yang selalu ku perbincangkan dengan Mu dalam doa. Seseorang yang selalu kusebut dalam setiap ku menyapa Mu.
Masih tentang dia, Tuhan.
Tuhan, Entah kenapa aku ingin berlama-lama menatap kenangan yang indah bersamanya. Entah kenapa air mata ini tak ingin berhenti mengalir. Tuhan, hari ini begitu membungkam hidupku. Dia akhiri kisah yang selalu ku perbincangkan panjang dalam setiap doa. Kisah yang kuharapkan akan menjadi kisah terakhir dalam hidupku. Kisah yang sangat ingin ku daratkan dalam ikatan. Tuhan, kali ini dia benar-benar mengakhiri kisah ini. Entah bagaimana aku harus melukiskan perasaan ini. Dadaku sesak ketika tahu semua berlalu begitu cepat
Tuhan, inikah skenario Mu?
Mungkin perpisahan adalah sesuatu yang terbaik untuknya. Tapi untukku? Apakah terbaik juga Tuhan?
Apakah Kau telah mempersiapkan orang yang jauh lebih baik untukku?
Jika memang Iya, izinkan aku tetap menyebut dia dalam setiap doaku. Agar dia tetap tersenyum puas dan bahagia. Sungguh rasa sayang ini tak pernah berkurang sedikitpun untukknya.
Tuhan, jika hari ini aku boleh meminta sesuatu. Aku ingin amnesia, entah mengapa aku ingin melupakan segala sakit yang ku rasakan detik ini saat ini yang tak tahu kapan akan berakhir. Aku tak ingin merasakan kehilangan dia, Tuhan. Tak ingin. Aku tak ingin menangisi sebuah perpisahan ini perpisahan yang mengais-ngais hatiku.
Akhir percakapan, aku hanya ingin apa yang dia putuskan membuat dia bahagia. Walau mengecewakan untukku bahkan lebih dari kata kecewa. Aku ingin lupakan semua rasa sakitku dan kembali melangkah lagi. Tuhan, jaga ia. Bantu dia ketika masalahnya rumit. Lepaskan beban pundaknya ketika ia merasa berat. Lancarkan lah segala sesuatu yang dia rencanakan. Jauhkan dia dari setiap penyakit. Aku ingin dia bahagia Tuhan. Hanya itu. :')
Kali ini aku tak bisa seperti dulu lagi, memperhatikan mu atau menyemangati mu secara langsung.
Aku tahu aku tak pantas. Karna diri ini bukan milikmu lagi.
Tap izinkan aku tetap menyebut nama mu dalam setiap perbincangan ku dengan Tuhan. Izinkan aku memperhatikan mu lewat doa. Hanya itu yang bisa ku lakukan.
Terimakasih sayang, terimakasih atas semua kebaikan dan kenangan yang berakhir dengan pedih.
Maaf aku tak bisa menjadi apa yang kamu inginkan.
Masih tentang hal yang sama. DIA.
Ya, Dia masih menjadi topik utama dalam hidupku.
Sungguh walau menyakitkan aku tak ingin mengganti topik. Tentang Dia. Orang yang selalu ku perbincangkan dengan Mu dalam doa. Seseorang yang selalu kusebut dalam setiap ku menyapa Mu.
Masih tentang dia, Tuhan.
Tuhan, Entah kenapa aku ingin berlama-lama menatap kenangan yang indah bersamanya. Entah kenapa air mata ini tak ingin berhenti mengalir. Tuhan, hari ini begitu membungkam hidupku. Dia akhiri kisah yang selalu ku perbincangkan panjang dalam setiap doa. Kisah yang kuharapkan akan menjadi kisah terakhir dalam hidupku. Kisah yang sangat ingin ku daratkan dalam ikatan. Tuhan, kali ini dia benar-benar mengakhiri kisah ini. Entah bagaimana aku harus melukiskan perasaan ini. Dadaku sesak ketika tahu semua berlalu begitu cepat
Tuhan, inikah skenario Mu?
Mungkin perpisahan adalah sesuatu yang terbaik untuknya. Tapi untukku? Apakah terbaik juga Tuhan?
Apakah Kau telah mempersiapkan orang yang jauh lebih baik untukku?
Jika memang Iya, izinkan aku tetap menyebut dia dalam setiap doaku. Agar dia tetap tersenyum puas dan bahagia. Sungguh rasa sayang ini tak pernah berkurang sedikitpun untukknya.
Tuhan, jika hari ini aku boleh meminta sesuatu. Aku ingin amnesia, entah mengapa aku ingin melupakan segala sakit yang ku rasakan detik ini saat ini yang tak tahu kapan akan berakhir. Aku tak ingin merasakan kehilangan dia, Tuhan. Tak ingin. Aku tak ingin menangisi sebuah perpisahan ini perpisahan yang mengais-ngais hatiku.
Akhir percakapan, aku hanya ingin apa yang dia putuskan membuat dia bahagia. Walau mengecewakan untukku bahkan lebih dari kata kecewa. Aku ingin lupakan semua rasa sakitku dan kembali melangkah lagi. Tuhan, jaga ia. Bantu dia ketika masalahnya rumit. Lepaskan beban pundaknya ketika ia merasa berat. Lancarkan lah segala sesuatu yang dia rencanakan. Jauhkan dia dari setiap penyakit. Aku ingin dia bahagia Tuhan. Hanya itu. :')
Kali ini aku tak bisa seperti dulu lagi, memperhatikan mu atau menyemangati mu secara langsung.
Aku tahu aku tak pantas. Karna diri ini bukan milikmu lagi.
Tap izinkan aku tetap menyebut nama mu dalam setiap perbincangan ku dengan Tuhan. Izinkan aku memperhatikan mu lewat doa. Hanya itu yang bisa ku lakukan.
Terimakasih sayang, terimakasih atas semua kebaikan dan kenangan yang berakhir dengan pedih.
Maaf aku tak bisa menjadi apa yang kamu inginkan.
Akhir cerita cinta
11 Agustus 2012
Sabtu, 11 Agustus 2012
Sedang Apa dan Dimana?-SNH-
Dulu slalu ada waktu
untuk kita
Kini ku sendiri...
Dulu kata cinta tak
habis tercipta
Kini tiada lagi..
Sedang apa dan dimana
dirimu yang dulu kucinta
Kutak tau tak lagi tau
Seperti waktu dulu
Apakah mungkin bila
kini ku ingin kembali menjalani JANJI hati kita?
Lagu sedang apa dan
dimana kali ini menemaniku malam ini
Bukan hanya tuk sekedar menemani tapi kali ini mewakili
seluruh hati ini
Hati yang lelah, yah
aku begitu lelah sayang. Aku lelah menemukan sosok mu yang dulu.
Bahkan secara perlahan sosok itu hilang musnah.
Entah kemana larinya kamu yang dulu, sosok yang sekarang
selalu aku pertanyakan.
Mungkinkah tak ada lagi rasa itu untukku?
Haruskah untuk kesekian kalinya aku menutupi perih ini? Luka
ini?
Tolong sayang, kalau memang aku yang pernah singgah di
hatimu ini tak mampu lagi mewarnai hidupmu. Bukankah lebih baik kamu
mengatakannya?
Untuk apa kamu diam tak menjawab pertanyaan indah yang
menyakitkan ini?
Kamu bukan hanya menggatung rasa tapi seluruh hati yang
telah ku fokuskan untukmu.
Tak perlu kamu menjawab “YA AKU BOSAN” sikap mu telah
mendiktekan segala kebosanan atau kejenuhan itu. Sikapmu telah menjadi layar
lebar yang nyata.
Lagi! Kali ini aku terjebak dalam kebodohan hati. Yang
terlalu mempercayai kalau dirimu masih menyimpan rasa yang sama. Padahal laku
mu tak sama sekali menunjukkan itu. Perhatianmu bahkan tak ada lagi untukku.
Sayang, salahkah jika
aku lelah dengan sikap mu? Salahkah? Sungguh perasaan ini begitu membuatku
sakit. Apakah kamu akan kembali lagi seperti duulu, seperti yang aku inginkan?
Jika tidak, pergilah! Pergi jika memang
kamu tak inginkan aku lagi. Aku cukup rela jika meninggalkanku adalah
kebahagiaanmu. Cukup JANJImu jadi kenangan yang menyakitkan. Aku kuat J
Kamis, 09 Agustus 2012
Hei Kamu : Tak Pentingkah Lagi Aku Bagimu?
Ya KAMU...
Kamu yang setelah beberapa waktu ini merajai hatiku membungah sekaligus menikam hatiku yang sudah kering ini, kau buat hatiku tak lagi layu bahkan aku haus dan kering ingin MATI membawa perih ini!!
Ya KAMU...
bolehkah aku bertanya?Dimana dirimu yang dulu?Hilangkah?Matikah?atau Musnah?
kalau ia mengapa tak kau lenyapkan saja cintaku juga seketika
mengapa kau pelan-pelan namun terlalu pasti menyakiti perasaanku.
kau tau lebih perih yang kurasakan jika seperti ini..
Ya KAMU...
mengapa aku jadi takut kehilanganmu?mengapa?ini tak wajar, di batas kemampuan ku..
mengapa rasanya aku semakin tersiksa jika kau tak ada di sampingmu
siksaan yang bertubi-tubi bahkan jauh dari kata itu..
kamu tahu?aku membutuhkan mu seperti aku membutuhkan udara untuk bernapas.
aku tak tau mengapa ini bisa kurasakan?bahkan aku malu berbicara seperti itu.
Tapi aku tak bohong.
Ya KAMU...
Kamu mengapa sikapmu berubah?kemana perginya perhatian mu yang begitu dalam kepadaku?
haruskah aku mencarinya?
mengapa perhatianmu kini tak sedalam perhatianku, kau tahu sakit itulah yang kurasa
Dosakah aku menangisi mu? bahkan setiap sebelum aku memejamkan mata,
memikirkanmu yang membuyarkan konsentrasiku. Ya hanya untuk memikirkan mu dan bermimpi kau kembali seperti sediakala.
Ya KAMU...
Sebenarnya apa mau mu?Cinta?Sayang?Perhatian?semua aku berikan secara nyata ku pusatkan semuanya untukkmu, bahkan kepercayaan yang tinggi sudah berikan seutuhnya?apa lagi yang belum kau nikmati dengan puas?kau pemenangnya, kau pemenang hatiku tapi tak pernah kau pandangi cintaku dengan tulus malah kau sakiti dengan bulus. Kini ku tanya, tak bisakah lagi kau mengerti apa yang sudah ku BERI untukmu? aku harap kau paham!!!
Ya KAMU...
Kemana janji mu yang dulu?Janji yang kau janjikan untukku, mau kau ingkari juga? Apa aku harus tersenyum bengis untuk mengira kau sebagai pengkhianat padahal apa-apa yang ku beri hanya ku orientasikan untuk mu.. hei apakah aku hanya persimpangan jalan yang selalu saja ingin kau abaikan? Dimana letak hati mu? sebegitu mudah mencampakkan aku yang jelas-jelas menyayangimu?
Ya KAMU...
Kali ini aku tak bisa apa-apa, upaya ku untuk mengembalikan mu seperti sediakala pun semakin jauh terasa, bahkan kau terlalu mengangggap ini sebagai sebuah permainan yang sedang kau nikmati? Inikah aku? bonekamu? Perlukah aku kau otak-atik? dan mengikuti semua aturanmu? Ada disaat kau butuh dan kau campakkan di saat kau tak perlu. Itukah yang kau inginkan?
Ya KAMU...
Seandainya kau bisa melihat senyumanku yang meyakitkan, terlalu mengharapkan perhatianmu? memelas bagai pengemis yang haus cinta? Teganya dirimu, Apakaha kau tak pantas bahagia bersama dirimu?Terlalu banyak pertanyaan. Aku muak. Yang jelas aku terlanjur mencintaimu terlanjur jatuh kepangkuan mu, tapi apakah aku sadar selama ini tujuan mu memilikiku untuk apa? Aku tak tahu apa kau mencintaiku atau tidak.
Ya KAMU...
Mungkin semua salahku terlalu mengharapkan mu menjadi apa yang aku impikan. Aku terlalu berharap banyak, tak perlu basa-basi walau terlalu sakit untuk melepasmu aku lebih baik sendiri. Aku bisa sendiri. Menjauhlah!. Aku memang tak penting lagi bagimu. Aku hanya ingin dekat-dekat pada kesepian. Disanalah luka ku terobati. Daripada aku harus tertekan mengharap mu.
Ya KAMU...
Tolong bilang padaku kau tak butuh aku lagi, tolong bilang padaku kau hanya ingin menipuku, mempermainkan ku, menjadikan ku pelampiasan dan pelarian mungkin. Tolong bilang kau tak sayang padaku. Agar aku bisa lenyap dari hidupmu. Agar aku bisa meyakinkan diri kau yang bertanggung jawab pada hatiku yang sudah semakin sakit ini. Janji mu dicatat Tuhan, hanya saja itu urusan kau. Bertanggungjawab atas semua yang terjadi pada diriku ini.
Ya KAMU....
Lupakah kau kenangan itu?
Hei KAMU
Tak pentingkah lagi aku bagimu?
Kamu yang setelah beberapa waktu ini merajai hatiku membungah sekaligus menikam hatiku yang sudah kering ini, kau buat hatiku tak lagi layu bahkan aku haus dan kering ingin MATI membawa perih ini!!
Ya KAMU...
bolehkah aku bertanya?Dimana dirimu yang dulu?Hilangkah?Matikah?atau Musnah?
kalau ia mengapa tak kau lenyapkan saja cintaku juga seketika
mengapa kau pelan-pelan namun terlalu pasti menyakiti perasaanku.
kau tau lebih perih yang kurasakan jika seperti ini..
Ya KAMU...
mengapa aku jadi takut kehilanganmu?mengapa?ini tak wajar, di batas kemampuan ku..
mengapa rasanya aku semakin tersiksa jika kau tak ada di sampingmu
siksaan yang bertubi-tubi bahkan jauh dari kata itu..
kamu tahu?aku membutuhkan mu seperti aku membutuhkan udara untuk bernapas.
aku tak tau mengapa ini bisa kurasakan?bahkan aku malu berbicara seperti itu.
Tapi aku tak bohong.
Ya KAMU...
Kamu mengapa sikapmu berubah?kemana perginya perhatian mu yang begitu dalam kepadaku?
haruskah aku mencarinya?
mengapa perhatianmu kini tak sedalam perhatianku, kau tahu sakit itulah yang kurasa
Dosakah aku menangisi mu? bahkan setiap sebelum aku memejamkan mata,
memikirkanmu yang membuyarkan konsentrasiku. Ya hanya untuk memikirkan mu dan bermimpi kau kembali seperti sediakala.
Ya KAMU...
Sebenarnya apa mau mu?Cinta?Sayang?Perhatian?semua aku berikan secara nyata ku pusatkan semuanya untukkmu, bahkan kepercayaan yang tinggi sudah berikan seutuhnya?apa lagi yang belum kau nikmati dengan puas?kau pemenangnya, kau pemenang hatiku tapi tak pernah kau pandangi cintaku dengan tulus malah kau sakiti dengan bulus. Kini ku tanya, tak bisakah lagi kau mengerti apa yang sudah ku BERI untukmu? aku harap kau paham!!!
Ya KAMU...
Kemana janji mu yang dulu?Janji yang kau janjikan untukku, mau kau ingkari juga? Apa aku harus tersenyum bengis untuk mengira kau sebagai pengkhianat padahal apa-apa yang ku beri hanya ku orientasikan untuk mu.. hei apakah aku hanya persimpangan jalan yang selalu saja ingin kau abaikan? Dimana letak hati mu? sebegitu mudah mencampakkan aku yang jelas-jelas menyayangimu?
Ya KAMU...
Kali ini aku tak bisa apa-apa, upaya ku untuk mengembalikan mu seperti sediakala pun semakin jauh terasa, bahkan kau terlalu mengangggap ini sebagai sebuah permainan yang sedang kau nikmati? Inikah aku? bonekamu? Perlukah aku kau otak-atik? dan mengikuti semua aturanmu? Ada disaat kau butuh dan kau campakkan di saat kau tak perlu. Itukah yang kau inginkan?
Ya KAMU...
Seandainya kau bisa melihat senyumanku yang meyakitkan, terlalu mengharapkan perhatianmu? memelas bagai pengemis yang haus cinta? Teganya dirimu, Apakaha kau tak pantas bahagia bersama dirimu?Terlalu banyak pertanyaan. Aku muak. Yang jelas aku terlanjur mencintaimu terlanjur jatuh kepangkuan mu, tapi apakah aku sadar selama ini tujuan mu memilikiku untuk apa? Aku tak tahu apa kau mencintaiku atau tidak.
Ya KAMU...
Mungkin semua salahku terlalu mengharapkan mu menjadi apa yang aku impikan. Aku terlalu berharap banyak, tak perlu basa-basi walau terlalu sakit untuk melepasmu aku lebih baik sendiri. Aku bisa sendiri. Menjauhlah!. Aku memang tak penting lagi bagimu. Aku hanya ingin dekat-dekat pada kesepian. Disanalah luka ku terobati. Daripada aku harus tertekan mengharap mu.
Ya KAMU...
Tolong bilang padaku kau tak butuh aku lagi, tolong bilang padaku kau hanya ingin menipuku, mempermainkan ku, menjadikan ku pelampiasan dan pelarian mungkin. Tolong bilang kau tak sayang padaku. Agar aku bisa lenyap dari hidupmu. Agar aku bisa meyakinkan diri kau yang bertanggung jawab pada hatiku yang sudah semakin sakit ini. Janji mu dicatat Tuhan, hanya saja itu urusan kau. Bertanggungjawab atas semua yang terjadi pada diriku ini.
Ya KAMU....
Lupakah kau kenangan itu?
Hei KAMU
Tak pentingkah lagi aku bagimu?
untukmu yang terlanjur masuk
dalam alur kehidupanku
-Rafika-
Kamis, 02 Agustus 2012
Cerpen : "Perbincangan 1 Jam via Telpon"
WAKTU sudah menunjukkan pukul 12 malam, mataku masih belum bisa diajak kompromi untuk tidur. Aku masih setia memandangi layar laptop dan menulis ria di blog. Sudah ku abaikan 10 kali unknown number yang dari tadi mengusik perhatianku. Kali ini yang ke-11 aku terpaksa menekan tombol hijau di handphone ku. Tak ada suara, tak ada yang bicara. Suasana hening sama dengan heningnya kamarku. Sengaja aku pun tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk memulai pembicaraan. Untuk mengucapkan kata halo pun aku tak tertarik. Aku berpacu, perhatianku tertuju pada setiap aliran kalimat tulisan ku.
"Ada apa? Kenapa harus aku yang memulai? Bukannya kamu yang berinisiatif untuk menelpon ku? Lalu mengapa kau yang diam?". Aku menyambung.
Dia tertawa kecil.
"Kau tak berubah, selalu tak mau kalah. hahaha". Laki-laki itu tertawa lagi
"Aku lagi sibuk menulis, mungkin butuh wkatu setengah jam lagi baru bisa bicara. Lebih baik kau
matikan saja telpon mu...". Kataku menghindar.
"Tak apa, biar ku tunggu dan temani kau". Xaver membantah.
Suasana kembali sepi, aku kembali melayang dalam tulisan ku. 15 menit berlalu, segera ku publish tulisan ini dalam blog. Kembali ku lihat layar handphone ku. Dia masih menunggu.
" Aku sudah selesai, kau mau bicara apa?". Tanya ku padanya
" Banyak yang ingin ku bicarakan, bahkan tak cukup lewat telpon". Dia menyambung
" Oh, mungkin tak bisa lama aku bicara. Hari sudah malam". Aku mengeluh
Dia tak mengabaikan apa yang aku katakan.
" Aku...aku...entahlah perasaan apa ini. Aku kangen!". Kata dia terbata-bata
" Lalu kalau kangen mau di apakan? Aku tak bisa apa-apa". Jawab ku ketus sambil memposisikan diri ke tempat tidur dan menyelimuti kaki.
" Ya, aku pun tak tau. Kau kenapa?Ada yang salah dariku?". Tanyanya.
" Hari yang buruk, kisah cinta yang pedas". Aku berdelih sedih.
" Kau bisa cerita, aku selalu siap mendengarkan!". Dia menawarkan.
Aku diam, aku ingin bercerita. Tak tahu harus mulai dari mana. Suasana kembali hening. Tawarannya ku abaikan. Aku terjebak memikirkan sosok laki-laki yang ku miliki saat ini namun Ia kian menjauh. Dia Sandi.
Aku mengalihkan perbincangan, aku belum siap untuk bercerita.
" Hmm, kau apa kabar?baikkah?". Tanyaku
" Tak selalu baik, kalau kau merasa tak baik". Jawab Xaver
" Jadi kau sibuk apa sekarang?". Tanyaku lagi.
" Aku sudah masuk semester 7, masih sibuk menenempatkan posisi kerja nantinya. Kalau pelayaran
memang berat. Harus siap bekerja di laut mana dan di negara mana mana saja". Xaver menjelaskan.
" Aku benci pelaut! Aku takkan mau kalau punya suami seperti mu, hahahaha. Yang lebih memilih
tinggal di laut daripada harus tinggal bersamaku. Jadi kau takkan punya kesempatan itu.. hahaha!".
Aku tertawa bangga dalam candaan.
" Alasan palsu! Bilang saja kau menghindari aku!". Xaver menjawab dingin. Lalu bertanya, "
Memangnya kau sudah menemukan yang lebih mengerti kau daripada aku?".
" SUDAH!. Yang jelas dia bukan pelaut dan dia seiman!". Tukas ku pedas.
Bersambung....
***
Sudah hampir 20 menit berlalu, ku lihat layar di handphone ku Masih tersambung, aku lihat dengan saksama tulisan connected masih tertera di sana. Tak lama kubiarkan, terdengar suara lelaki dar handphone itu. Yah, dia memulai pembicaraan.
"Sampai kapan, mau terus seperti ini? Diam-diaman?". Tukas lelaki itu
Aku masih terdiam dan terpaku. Suara itu, YA suara itu, suara yang telah ku kenal 3 tahun belakangan ini. Tak mungkin salah. Dia Xaver."Ada apa? Kenapa harus aku yang memulai? Bukannya kamu yang berinisiatif untuk menelpon ku? Lalu mengapa kau yang diam?". Aku menyambung.
Dia tertawa kecil.
"Kau tak berubah, selalu tak mau kalah. hahaha". Laki-laki itu tertawa lagi
"Aku lagi sibuk menulis, mungkin butuh wkatu setengah jam lagi baru bisa bicara. Lebih baik kau
matikan saja telpon mu...". Kataku menghindar.
"Tak apa, biar ku tunggu dan temani kau". Xaver membantah.
Suasana kembali sepi, aku kembali melayang dalam tulisan ku. 15 menit berlalu, segera ku publish tulisan ini dalam blog. Kembali ku lihat layar handphone ku. Dia masih menunggu.
" Aku sudah selesai, kau mau bicara apa?". Tanya ku padanya
" Banyak yang ingin ku bicarakan, bahkan tak cukup lewat telpon". Dia menyambung
" Oh, mungkin tak bisa lama aku bicara. Hari sudah malam". Aku mengeluh
Dia tak mengabaikan apa yang aku katakan.
" Aku...aku...entahlah perasaan apa ini. Aku kangen!". Kata dia terbata-bata
" Lalu kalau kangen mau di apakan? Aku tak bisa apa-apa". Jawab ku ketus sambil memposisikan diri ke tempat tidur dan menyelimuti kaki.
" Ya, aku pun tak tau. Kau kenapa?Ada yang salah dariku?". Tanyanya.
" Hari yang buruk, kisah cinta yang pedas". Aku berdelih sedih.
" Kau bisa cerita, aku selalu siap mendengarkan!". Dia menawarkan.
Aku diam, aku ingin bercerita. Tak tahu harus mulai dari mana. Suasana kembali hening. Tawarannya ku abaikan. Aku terjebak memikirkan sosok laki-laki yang ku miliki saat ini namun Ia kian menjauh. Dia Sandi.
Aku mengalihkan perbincangan, aku belum siap untuk bercerita.
" Hmm, kau apa kabar?baikkah?". Tanyaku
" Tak selalu baik, kalau kau merasa tak baik". Jawab Xaver
" Jadi kau sibuk apa sekarang?". Tanyaku lagi.
" Aku sudah masuk semester 7, masih sibuk menenempatkan posisi kerja nantinya. Kalau pelayaran
memang berat. Harus siap bekerja di laut mana dan di negara mana mana saja". Xaver menjelaskan.
" Aku benci pelaut! Aku takkan mau kalau punya suami seperti mu, hahahaha. Yang lebih memilih
tinggal di laut daripada harus tinggal bersamaku. Jadi kau takkan punya kesempatan itu.. hahaha!".
Aku tertawa bangga dalam candaan.
" Alasan palsu! Bilang saja kau menghindari aku!". Xaver menjawab dingin. Lalu bertanya, "
Memangnya kau sudah menemukan yang lebih mengerti kau daripada aku?".
" SUDAH!. Yang jelas dia bukan pelaut dan dia seiman!". Tukas ku pedas.
Bersambung....
Rabu, 01 Agustus 2012
Kamu dan Kesibukanmu
SELAMAT datang 'kesibukan' pada dunia mu yang secara langsung mempengaruhi semestaku, selamat menempuh semuanya, sayang. Walau aku terlalu cemburu saat kamu selalu berdampingan mesra dengan kesibukanmu. Walau aku terlalu iri saat kamu lebih mementingkan kesibukanmu. Atau aku yang terlalu merasa kesepian saat kamu menikmati harimu dengan kesibukanmu itu. Namun tak bisa ku hindari aku bangga padamu, aku bangga kamu bisa menjadi apa yang kamu harapkan. Senyumku mengalahkan sabitnya bulan untuk kebanggaanku padamu. Namun sangat di sayangkan, seandainya kamu bisa membagi waktu dan rasa di sela-sela kesibukanmu pasti aku rasa aku adalah wanita yang beruntung mempunyaimu.
Kamu, ya kamu di sela-sela kesepianku tanpa sosokmu yang seperti dulu. Ada sebutir harapan terakhir yang kuharapkan. Yah, aku hanya berharap kamu selalu bahagia dengan kesibukanmu. Walau aku merasa hampa. Aku tak bisa menekanmu kali ini yang bisa aku lakukan adalah menekan diriku sendiri untuk memaklumi segala aktivitas mu sekarang. Walau ada pepatah yang bilang "Kalau ada orang yang tulus mencintaimu, sesibuk apapun kondisinya. Dia akan selalu menjadikanmu prioritas utamanya". Awalnya kalimat ini membungkam ku. Membuat ku terdiam sejenak, yah kali ini tak ku pungkiri aku takut. Aku takut sebenarnya dia mencintaiku apa tidak? Terbesit pertanyaan bodoh itu yang memang patut dipertanyakan.
Memang aku harus overdosis dengan obat yang namanya kesabaran. Saat ini, aku hanya perlu menunggu. Menunggu dia melepaskan kesibukannya. Lalu kembali seperti dulu. Memang hanya waktu yang dapat mennjawab pertanyaan bodoh tadi. Semoga waktu menjawab "dia memang mencintaiku". Aminn
Dalam diri, akan selalu kutemani kamu dengan doa. Akan ku perbincangkan pada Tuhan untuk kesuksesan mu nanti. Aku hanya perlu bersabar selangkah lagi. Dan ku harap kamu datang kembali dengan pelukan hangat. Satu kata, semangat untukmu. Sayang. :)
Love,
Rafika's note
Langganan:
Postingan (Atom)
