CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 29 Oktober 2012

Past and Present

"Apa yang kamu rasakan?"

"Random"

"Mengapa?"

"Aku bahagia namun mulai merasa takut".

"Adakah hal yang membuatmu merasa begitu khawatir?"

"Iya. Tidak satu. Bahkan sekarang bertali-tali menyambung dalam simpul kusut".

"Lalu?"

"Hmm. Anggap saja sudah terlalu banyak hal yang memaksa untuk dirasakan dan diri akhirnya menjadikannya sebuah hasil kalkulasi yang menghilang tanpa terlebih dulu bisa disimpulkan. aku hanya meyakini bahwa hidup orang, siapapun itu tidak akan pernah lurus"

"Ceritakan!"

"Baiklah, baca baik-baik!"

Saat ini aku sedang membangun mimpi lewat semesta ku dan semestanya akan kurencanakan dengan Tuhan untuk menyatukan semesta ku dan semestanya. Yah. Benar. Aku sedang mencintai sosoknya yang mengetuk hidup ku beberapa waktu terakhir. Kemudian ku persilahkan masuk dan ku  perintahkan duduk. Mata hati kita memadukan rasa yang sama rasa yang kita sebut sayang. Kita berbincang menceritakan bait-bait kisah dahulu. Apapun itu aku dapat memastikan padanya, cinta ku bukan sekedar cerita fiktif . Ini nyata. Yah sekali lagi ini nyata. Cinta yang sejujurnya tak bisa ku jelaskan kapan dimana rasa itu bertempur menjadi rasa takut kehilangan. Dia punya masa lalu. Dia punya cerita. Sama seperti diriku. Past, sebut saja begitu. Aku mulai takut jika dia masih bermain-main dengan masa lalunya. Tidak salah. Memang. Tapi rasa khawatir, rasa itu mulai menjalar sampai ke ubun-ubun. Pertanyaan, serius apa tidak dirinya? Masikah dia menyimpan rapi masa lalunya? Atau masih berharapkah dia dengan masa lalunya? Entah mengapa aku mulai takut ketika ia menggandeng hidupku kemudian perlahan melepasnya. Dan memutar arah ke masa lalunya. Yah semua orang pandai bersandiwara berbohong semaunya tentang dirinya tentang perasaannya. Semoga dia tidak. Ingin sekali aku mengatakan padanya. "Ini waktu kita sayang, kita tunjukan kepada Tuhan. Bahwa Dia tidak akan mempertemukan kita secara sengaja tanpa alasan. Dia tidak akan memberi kita satu rasa yang kita satukan. Dia tidak akan menciptakan rasa 'rindu' yang dahsyat diantara kita tanpa sebuah jawaban. Semua ini skenario-Nya. Kita hanya perlu menjaga dan menuntun pada akhir titik sempurna cerita-Nya". Dia masih berteduh duduk manis, kali ini aku akan melarang dia pergi. Akan ku kunci rapat-rapat. Biarkan aku dan dia tetap tinggal pada rumah yang kusebut 'kebersamaan'.

Pada suatu masa aku hanya berharap, setelah Tuhan dan keluarga pilihlah  'aku' menjadi bait kalimat "present" dalam setiap kau bernafas. Maukah?


Disela nafas kita,



R A F I K A

Minggu, 28 Oktober 2012

Kita dan Komitmen

"Komitmen? Baik sayang. Aku jelaskan". Begitu rangkaian kata si doi ketika membahas tentang komitmen, Menurut si doi komitmen itu :



*Pertama, berkomitmen untuk menjaga perasaan dan tidak saling menyakiti perasaan satu sama lain. Karena kita bersatu untuk bahagia. Bukan untuk tersakiti.

*Kedua, berkomitmen untuk tidak mendua. Kenapa? Karena, hati, rasa sayang dan perhatian tak pantas untuk dibagi dua. Apalagi dengan sesama manusia.

*Ketiga, komitmen untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain. Kenapa? Kita manusia tidak sempurna. Selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Fokus kita adalah melihat kelebihan dan menerima kekurangan.

*Keempat, Saling mendukung satu sama lain. Kenapa? Karena semangat aku ada di sayang dan semangat sayang ada di aku.

*Kelima, selalu terbuka dan berkata jujur. Kenapa? Karena inilah pondasi utama sebuah hubungan yang baik. Apalagi kalau sudah dilapisi rasa sayang.

Kombinasi yang pas untuk merasakan kebahagiaan.

Sekian dari doi :))))

Sabtu, 27 Oktober 2012

Dalam Jarak

Apa yang begitu menyenangkan dalam jarak ratusan kilometer diantara kita ini? Aku tak bisa merasakan genggaman jemarimu di sela-sela jemariku. Apa yang kita harapkan dari jarak sejauh ini?  Ketika rasa rindu ingin bertemu terus-terus menyapa indah namun kejam. Apa yang membuat kita bahagia dalam jarak sejauh ini? Aku tak bisa menatap senyummu, mengusap kepala mu, bahkan merangkul tanganmu.

Dalam jarak sejauh ini? Apakah kita saling menyebut nama di sela-sela doa? Dalam jarak sejauh ini? Apakah kita merasakan kesepian diantara keramaian? Iya. Itulah jawaban tepat. Aku tak bisa menggambarkan beberapa kebuntuan aku ketika rasa rindu ini begitu mencekam. Yang ku tau aku dan kamu pasti nanti akan bertemu lagi.

Diam-diam aku hanya bisa menatap foto kita berdua. Disaat kita menciptakan kenangan di satu semesta. Ah kau memang semestaku sekarang. Ada yang kurang rasanya jika tak menatap wajahmuada yang hiolang rasanya saat tak mendengar suara mu. Hai semestaku, aku harap kamu merasakan hal yang sama. Rindu, cinta, kasih. Aku tunggu tangan mu menyambut tangan ku lagi. Di sini. Di kota ini.

Yogyakarta, 27  Oktober 2012


With love,


R A F I K A

Selasa, 16 Oktober 2012

Dalam Sebuah Rasa

Ini bukan yang pertama, duduk bersama dengan mu dalam satu waktu. Ini bukan juga yang pertama di saat kita saling tertawa bersama. Aku terhanyut dalam setiap aliran tatapan matamu yang sempat ku kira nyata. Yang sempat ku kira sama.

Entahlah bagaimana aku bisa jelaskan tentang skenario Tuhan mempertemukan dalam semesta ini. Dimulai dari kalimat mu di bawah lampu  redup sebuah angkringan "Oh ini yang namanya Rafika". Aku menatapmu biasa awalnya sampai kamu membuat bingkai permainan di dalam media sosial yang biasa kita sebut twitter. Awalnya aku hanya bisa menertawakan kekonyolanmu dalam 144 karakter yang ada di media itu.

Ini juga bukan hal yang baru bagiku dan untukmu, bersenda gurau lewat apa yang disebut media sosial. Beberapa hal bahkan banyak hal yang kamu ukir perlahan. Namun rasanya semua itu terjadi begitu cepat membawa kita dalam satu semesta.

Aku hanya belajar untuk menganggap semua ini rekayasa permainanmu. Walau ku berharap benar.
Aku harus melawan keegoisanku untuk menyukai mu lebih dari kata suka. Mengagumi katamu walau tidak bisa ku pastikan kebenarannya.

Kali ini apakah kamu akan membiarkan ku merasakan hal yang tak kau rasakan?
Memastikan mu sendiri adalah hal yang gampang untuk ku bertanya padamu. Tapi memastikan hati mu ada untukku adalah pertanyaan sulit yang bisa kuutarakan pada mu.

Aku tak bisa menyalahkan perasaan yang tumbuh sedemikian rupa untuk mu. Aku bahagia kalau kamu mengerti tentang apa yang ku rasa. Sedikit kamu mencoba tuk pahami tentang tingkah ku. Sadar atau tidak lantunan tweet ku itu beberapa ada ku siapkan untuk mu. Tapi aku akan bahagia jika kita punya perasaan 1 + 1 = KITA.