CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 29 November 2012

Cerpen : Kapal dan Nahkoda

(sumber gambar : google)

"Nak, perempuan itu ibaratkan kapal!"

Iya. Ibu bilang seperti itu. Perempuan seperti kapal. Aku hendak mencibir tapi Ibu belum selesai berbicara.

"Nak, laki-laki itu akan datang ke dermaga dan memilih kapal untuk berlayar mengarungi lautan bebas".

Sejenak aku terdiam memahami maksud Ibu. Mulai ku telusuri aku termangu lalu Ibu mulai senang menganalogi lagi.

"Anak perempuan ku satu-satunya, kalau saja perempuan ibaratkan kapal dan lelaki sebagai nahkodanya maka kapal harus siap melawan ombak bersama nahkodanya".

Aku mulai paham namun terkadang aku masih belum bisa menerima pemikiran kolot Ibu yang selalu mengasumsikan perempuan sebagai kapal di zaman seperti modren ini. 

"Bu, apakah semua perempuan harus menjadi kapal?"

Ibu tersenyum kecil. Lalu menjawab dengan tegas.

"Perempuan itu pada kodratnya kapal dan memang harus tetap menjadi kapal bagimanapun zaman bermetorfosa. Perempuan boleh mampu berdiri sejajar dan duduk sama rata dengan laki – laki pada zaman seperti saat ini, tapi perempuan adalah kodrat satu tulang rusuk kiri yang harus menerima seberapa bengkok rusuk lain laki – lakinya".

Kali ini aku terkesima dengan jawaban Ibu dan aku tak mau membantah. Benar tak mau lagi membantah. Ibu mengerti obsesiku yang selalu ingin berada di depan. Berada menjadi pemimpin. Tapi aku tersadarkan bahwa ada tempat dimana aku harus pasrahkan diri dan tempat dimana aku harus pasrah menjadi kapal.

Sudah lama sekali Ibu tak berbicara serius seperti ini denganku. Sungguh aku menikmati waktu dimana Ibu bisa berbincang panjang denganku. Biasanya aku menikmati romantisme dengan Ibu dengan berdiri dian bersandar di tembok sambil mengintip Ibu sedang memasak makananan kesukaan ku.

Terselip pertanyaan yang sebelumnya tak pernah terjamah dalam kepala ku.
"Bu,  Jika saat ini aku sebagai kapal sedang berlayar ke satu pulau bersama nahkodaku lalu di tenga perjalanan ada kapal lain yang berharap dikemudikan juga oleh nahkodaku? Aku sebagai kapal harus bersikap seperti apa?"

Ibu terdiam, tak biasanya dia nampak melirik-lirik raut wajahku. Kembali dia tersenyum dengan mesra. Lalu menjawab.

"Nahkoda yang baik akan selalu menjaga dan merawat mesin kapalnya. Ibaratkan saja mesin itu hati perempuan. Begitu juga dengan kapal, kapal yang kuat tidak boleh menyerah untuk tandas, karam atau yang paling tragis; tenggelam. Ingat nak, di tengah perjalanan bukan cuma ada ombak, tapi juga ada badai dan segala bentuk rintangan lainnya. Kapal dan nahkoda harus kompak untuk mencapai pulau yang di tuju".

Aku mengangguk tersenyum. Sepatah kalimat melayang dari bibirku.

"Bu, aku tak ingin jadi kapal yang akan jadi tempat persinggahan. Aku ingin menuju pelabuhan terakhir yang bernama kebahagiaan".

Ibu memeluk mesra tubuhku.

"Ada satu hal yang perlu kamu pahami, 
Jangan pernah bertanya mengapa nahkodamu menyakitimu atau bahkan meninggalkanmu, karna jika itu terjadi bertanyalah pada dirimu sendiri apa yang tidak mampu kau lakukan untuknya. Tapi percayalah jika ada nahkoda yang telah memilih mu, percayakan dia untuk mengemudikan kapal itu sampai ke pelabuhan yang kalian inginkan. Kebahagiaan"

Tubuhku dan tubuh Ibu. Tubuh kami bersatu dalam peluk erat. Menikmati suasana-suasana perbincangan. Petang semakin menjelma menjadi malam. Aku masih terngiang dengan kalimat "Perempuan itu ibarat sebuah kapal"..












Selasa, 20 November 2012

Cerpen : Lalu?


“…Masih ada aku yang perlu kau jaga hatinya!”
Nay berbisik pelan dalam isak tangisannya. Hendru hanya bisa menancapkan tatapan tajam ke arah mata Nay.
“…Apa ada yang salah ketika aku meminta? Ndru, kamu hanya perlu menjamin!”
“…..”
“…Kenapa kamu diam Ndru? Kamu menikmati setiap rasa sakit yang aku rasakan?”
“…Kita tak perlu memaksakan kita!”
“…Tapi kamu memaksa aku untuk merasakan sakit ini, memaksa aku merasakan bagaimana memiliki ragamu namun tak memiliki cinta mu”
“…Bodoh, aku tak kan bertahan jika aku tak punya rasa padamu, aku tak akan berani meminta mu menjadi milikku jika cinta itu tidak timbul!”
“Ndru…”
“Nay, kita hanya perlu belajar bagaimana membangun hubungan ini dengan rasa nyaman, aman, sampai benar-benar takdir menyatukan kita”
“Ndru, aku juga tak akan seperti ini jika bukan karena sikapmu yang jelas-jelas masih menyimpan rasa pada dia, yang jelas-jelas takut jika dia dimiliki yang lain. Rasa itu kamu masih menyimpannya dalam-dalam. Berharap dia kembali lagi.”
“Lalu jika benar, kamu ingin aku bagaimana? “
“Ndru, jika kamu di posisi ku sekarang?”
“…..”
Hendru terdiam menikmati suasana ini dengan kegelisahan. Membuatnya harus benar-benar memilih. 
”..Disela-sela kerinduan mu dengan dia, di dalam rasa yang masih membekas. Diantara rasa kekhawatiran ini. Satu yang ku pinta. Tolong….Jangan pergi, Ndru..”
Seketika Hendru menjawab semua ini dengan mendekap tubuh Nay dengan pelukan. Dengan pelan Hendru berbisik pada daun telinga Nay.
“…Aku tak bisa…”

Ini hanya cerita fiksi 

Sabtu, 17 November 2012

Mencintaimu Seperti Sains

Aku memang bukan pesuara sains yang mahir dan tahu tentang segala tentang sains. Tidak.
Aku hanya seorang akuntan yang masih mencintai kehidupan sains bernama kimia dan biologi.
Kali ini biarkan aku mendeskripsikan kita dalam sains. Bolehkah?

Cinta kita seperti reaksi reversible, reaksi saling membutuhkan dan melengkapi. Tidak sampai disitu. Bagiku kamu seorang biokatilisator yang mampu menetralkan perasaan khawatirku.

Aku semakin mengerti mengapa hatiku terikat oleh benang-benang spindel hatimu, karena kamu adalah mintokondria yang mampu memberi getaran energi pada kehidupanku. Lalu kamu seperti auksin yang seketika mampu membuatku serasa menjulang melintasi awan-awan. Juga karena kamu seperti Rizhobium yang senantiasa mengikat nitrit setiap perasaan ku.

Kita berdua merupakan bagian dari gen komplementer yang akan menghasilkan filial-filial tuli dan gagu jika kita tak bersatu. Maka kita perlu sama-sama membangun. Hati ini selalu ingin bersimbiosis dengan hatimu. Tak perduli jika memang banyak perbedaan diantara kita. Tak perduli apakah kita homologi atau analogi, heterozigot atau homozigot. Tak perduli meskipun kamu pernah sempat memiliki banyak lisosom yang sempat membuat aku terbakar cemburu dan khawatir. Walau aku hanya mempunyai diding sel. Maka dengan itu aku akan selalu membawakan pasangan asam amino kedalam ribosom hatimu.

Satu yang perlu kamu tahu, aku ingin mencintamu dan menyayangimu dengan kokoh
Sekokoh ikatan-ikatan kovalen yang tak tergoyahkan
Begitu juga aku ingin mencintaimu dengan peka seperti 
saraf yang mengantar rangsang dari dendrit ke dendrit.
Dan aku ingin terus mencintaimu dengan pasti. Sepasti jantung yang tak akan pernah berhenti berdetak

Kamu adalah senyawa ion sekaligus kovalen dan kamu akan selalu menjadi asam traumalin bagi luka dan rasa khawatirku.
Begitulah kita saling melengkapi kekurangan.



Dalam mendung soreh yang mengingatkanku pada sains dan dirimu

with love, Rafika

Kamis, 08 November 2012

Takdir yang Menjadikan Pertemuan dan Cinta

Kita sama-sama membangun mimpi, membangun rasa, membangun cita masa depan. Dalam masa itu kita saling meleburkan perasaan dari rasa ke rasa, dari hati ke hati, lalu kita mulai bertatapan-tatapan memadukan rasa yang sulit untuk dijelaskan. Saat itu kita saling melengkapi kalimat akhir dengan bisikan singkat namun penuh arti "Aku tak ingin kehilangan kamu".

Hari ini tepat satu minggu kita menjalani hubungan yang sampai saat ini aku berharap selalu ada kalimat kontinyu tanpa ada batas. Entahlah dibilang cepat mungkin iya lambat juga iya. Tapi semua itu tak penting asal aku selalu bisa memelukmu dalam keadaan sepelik apapun. Kebersamaan kita seminggu ini banyak mengajarkan ku pada sebuah takdir pertemuan dan perasaan yang biasa disebut 'cinta'.

Aku merasa telah belajar kata refleksifiras, sebuah proses monitor diri yang kontinyu telah melahirkan seongkok keyakinan baru yang didasarkan atas pemahaman sederhana bahwa hidup akan menjadi mudah dengan berserah, satu langkah sebelum kepasrahan. Memang mencintaimu bukan bentuk kepasrahan dalam artian yang utuh, tetapi kita saling  memasrahkan diri kita untuk jatuh dalam takdir pertemuan yang mungkin telah direalisasikan semesta untuk mempertemukan kita dalam cerita yang kita tulis dengan satu tujuan.

Setidaknya kita telah berani membicarakan bagaimana kita nantinya. Bagaimana dua tahun kedepan. Bagaimana rancangan kita untuk memulai masa yang ada di depan. Memang terlalu cepat kita perbincangkan, tapi aku semakin mengerti bahwa cinta itu berani berencana dengan memasrahkan keputusan hanya kepada-Nya.

“ Sayang, aku semakin mengerti bahwa aku mencintamu dengan sederhana, tanpa teori dan perhitungan apapun hingga ketidaksesuaian kita hari ini selalu ingin aku syukuri sebagai anugerah. Mulai dari apa yang terjadi pada kita. Saat ini, aku ingin percayakan kamu untuk hidupku begitu juga sebaliknya. Aku ingin cukupkan kamu sebagai orang yang mendampingi ku nantinya. Semoga. Lagi dan lagi aku berharap kamu mempunyai rasa yang sama“.

Terakhir dari tulisan ini aku hanya bisa berterimakasih kepada semesta yang ku sebut kamu. Aku mencintaimu seperti pagi  yang cerah. Ya. Takdir ku kali ini adalah bertemu sosokmu yang menjajikan rasa dan memberinya. Pada rangkaian kalimat ini aku 'utuh-kan' cinta ini pada sosokmu. You're Mine :)


Yogyakarta, 08  November 2012

with  love , Rafika