Iya. Ibu bilang seperti itu. Perempuan seperti kapal. Aku hendak mencibir tapi Ibu belum selesai berbicara.
"Nak, laki-laki itu akan datang ke dermaga dan memilih kapal untuk berlayar mengarungi lautan bebas".
Sejenak aku terdiam memahami maksud Ibu. Mulai ku telusuri aku termangu lalu Ibu mulai senang menganalogi lagi.
"Anak perempuan ku satu-satunya, kalau saja perempuan ibaratkan kapal dan lelaki sebagai nahkodanya maka kapal harus siap melawan ombak bersama nahkodanya".
Aku mulai paham namun terkadang aku masih belum bisa menerima pemikiran kolot Ibu yang selalu mengasumsikan perempuan sebagai kapal di zaman seperti modren ini.
"Bu, apakah semua perempuan harus menjadi kapal?"
Ibu tersenyum kecil. Lalu menjawab dengan tegas.
"Perempuan itu pada kodratnya kapal dan memang harus tetap menjadi kapal bagimanapun zaman bermetorfosa. Perempuan boleh mampu berdiri sejajar dan duduk sama rata dengan laki – laki pada zaman seperti saat ini, tapi perempuan adalah kodrat satu tulang rusuk kiri yang harus menerima seberapa bengkok rusuk lain laki – lakinya".
"Perempuan itu pada kodratnya kapal dan memang harus tetap menjadi kapal bagimanapun zaman bermetorfosa. Perempuan boleh mampu berdiri sejajar dan duduk sama rata dengan laki – laki pada zaman seperti saat ini, tapi perempuan adalah kodrat satu tulang rusuk kiri yang harus menerima seberapa bengkok rusuk lain laki – lakinya".
Kali ini aku terkesima dengan jawaban Ibu dan aku tak mau membantah. Benar tak mau lagi membantah. Ibu mengerti obsesiku yang selalu ingin berada di depan. Berada menjadi pemimpin. Tapi aku tersadarkan bahwa ada tempat dimana aku harus pasrahkan diri dan tempat dimana aku harus pasrah menjadi kapal.
Sudah lama sekali Ibu tak berbicara serius seperti ini denganku. Sungguh aku menikmati waktu dimana Ibu bisa berbincang panjang denganku. Biasanya aku menikmati romantisme dengan Ibu dengan berdiri dian bersandar di tembok sambil mengintip Ibu sedang memasak makananan kesukaan ku.
Terselip pertanyaan yang sebelumnya tak pernah terjamah dalam kepala ku.
Sudah lama sekali Ibu tak berbicara serius seperti ini denganku. Sungguh aku menikmati waktu dimana Ibu bisa berbincang panjang denganku. Biasanya aku menikmati romantisme dengan Ibu dengan berdiri dian bersandar di tembok sambil mengintip Ibu sedang memasak makananan kesukaan ku.
Terselip pertanyaan yang sebelumnya tak pernah terjamah dalam kepala ku.
"Bu, Jika saat ini aku sebagai kapal sedang berlayar ke satu pulau bersama nahkodaku lalu di tenga perjalanan ada kapal lain yang berharap dikemudikan juga oleh nahkodaku? Aku sebagai kapal harus bersikap seperti apa?"
Ibu terdiam, tak biasanya dia nampak melirik-lirik raut wajahku. Kembali dia tersenyum dengan mesra. Lalu menjawab.
"Nahkoda yang baik akan selalu menjaga dan merawat mesin kapalnya. Ibaratkan saja mesin itu hati perempuan. Begitu juga dengan kapal, kapal yang kuat tidak boleh menyerah untuk tandas, karam atau yang paling tragis; tenggelam. Ingat nak, di tengah perjalanan bukan cuma ada ombak, tapi juga ada badai dan segala bentuk rintangan lainnya. Kapal dan nahkoda harus kompak untuk mencapai pulau yang di tuju".
Aku mengangguk tersenyum. Sepatah kalimat melayang dari bibirku.
"Bu, aku tak ingin jadi kapal yang akan jadi tempat persinggahan. Aku ingin menuju pelabuhan terakhir yang bernama kebahagiaan".
Ibu memeluk mesra tubuhku.
"Ada satu hal yang perlu kamu pahami, Jangan pernah bertanya mengapa nahkodamu menyakitimu atau bahkan meninggalkanmu, karna jika itu terjadi bertanyalah pada dirimu sendiri apa yang tidak mampu kau lakukan untuknya. Tapi percayalah jika ada nahkoda yang telah memilih mu, percayakan dia untuk mengemudikan kapal itu sampai ke pelabuhan yang kalian inginkan. Kebahagiaan"
Tubuhku dan tubuh Ibu. Tubuh kami bersatu dalam peluk erat. Menikmati suasana-suasana perbincangan. Petang semakin menjelma menjadi malam. Aku masih terngiang dengan kalimat "Perempuan itu ibarat sebuah kapal"..
Aku mengangguk tersenyum. Sepatah kalimat melayang dari bibirku.
"Bu, aku tak ingin jadi kapal yang akan jadi tempat persinggahan. Aku ingin menuju pelabuhan terakhir yang bernama kebahagiaan".
Ibu memeluk mesra tubuhku.
"Ada satu hal yang perlu kamu pahami, Jangan pernah bertanya mengapa nahkodamu menyakitimu atau bahkan meninggalkanmu, karna jika itu terjadi bertanyalah pada dirimu sendiri apa yang tidak mampu kau lakukan untuknya. Tapi percayalah jika ada nahkoda yang telah memilih mu, percayakan dia untuk mengemudikan kapal itu sampai ke pelabuhan yang kalian inginkan. Kebahagiaan"
Tubuhku dan tubuh Ibu. Tubuh kami bersatu dalam peluk erat. Menikmati suasana-suasana perbincangan. Petang semakin menjelma menjadi malam. Aku masih terngiang dengan kalimat "Perempuan itu ibarat sebuah kapal"..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar