Hai malam apa kabar? Belakangan ini hujan terus saja menyelimutimu dengan kedinginan, apa kau baik-baik saja?
Hai Fika, aku kira kamu sudah lupa denganku. Tak usah khawatir fika, aku sudah terbiasa dengan dingin, mereka menjadi bagian dalam hidupku, hujan juga menjadi temanku di kala aku kesepian. Awan juga selalu menghangatkanku dikala menggigil. Bagaimana kabarmu Fika?
Hai malam, tak mungkin aku bisa melupakanmu, rumah yang selalu menjadi tempat aku merasakan duka dan bahagia. Rumah yang selalu menjadi tempatku pulang. Kabar ku? Aku baik-baik saja malam.
Hai Fika, kamu baik-baik saja? bukankah itu kebohongan? aku mengenalmu sejak kau mengajakku untuk berteman. 10 tahun yang lalu sejak kau mampu menikmati aku sebagai tempat mu tertawa dan menangis. Bukan waktu yang sebentar. Jadi kau tak bisa memalsukan wajahmu di hadapanku.
Malam, apakah kau marah denganku? Maaf, belakangan ini aku tak menghampiri mu. Aku tak bisa bercerita. Terlalu banyak beban dipundakku. Malam, apakah kau tak rindu dengan cerita-cerita ku?
Fika, Aku justru menunggu mu untuk menghampiriku bercerita. Bukankah aku tempat keluh duka mu juga. Aku rindu mendengar isi hatimu, rindu tawa & tangismu memanggil namaNya.
Baiklah, aku akan mulai bercerita, malam. Mau aku mulai dari mana? Kisahku tentang dia yang selalu aku ceritakan? Atau kuliah ku yang mulai susah? atau Organisasiku yang mulai menjelma jadi mosnter? atau…
Hai fika, sebelum kau mulai bercerita bolehkah aku bergantian berkelu kesah padamu… Dari semua cerita yang nanti akan kau ceritakan kau temuilah dari kelu kesah yang akan ku sampai kan padamu.
Ah malam, kau menjengkelkan padahal baru saja aku ingin bercerita..tapi baiklah malam, aku siap setia mendengarkan…
Hai fika, sudah lama sekali kau tidak menggunakan mukenamu di dini hariku. Aku rindu pada Tahajudmu yang dulu selalu kau dirikan kepada Dia yang menciptakan aku sebagai malam.
Hai Fika, kamu tau..aku ingin sekali mendengar lantunan Qur’an mu dan tangismu karenaNya.
Hai Fika, untuk apa menangis sambil meringkuk dibawah selimut tebalmu? Menangislah diatas Sajadah dan basahi Mukenamu.
Hai Fika, terkadang aku bosan dengar kau mendendangkan lagu2 sendu tentang hidup. Maukah kali ini kau keluarkan lantunan merdu ayat2Nya dari bibirmu
Hai Fika, aku menunggumu di malam yang dini hari. Bukan untuk terus memainkan jari membuat kata-kata konyol memenuhi halaman burung biru itu. Twitter.
Hai Fika, aku akan menunggumu di malam yang dini hari selanjutnya. Pakai mukenamu. Bersyukurlah dan Bersujudlah padaNya!!
Hai malam, aku tak jadi bercerita. Ternyata ada banyak hal yang aku lewatkan beberapa waktu ini. Malam, kau begitu peka dan hangat memberi nasihat ini. Aku hanya bisa berterimakasih. Inilah alasan mengapa aku selalu mencintai mu malam, karena kau selalu punya jawaban di dalam kesunyian dan ke asaan. Aku mencintaimu dengan baik, malam :*
Sang penikmat malam,
Rafika


Tidak ada komentar:
Posting Komentar