- Sarah: Aku lupa rasanya jatuh cinta
- Ibrahim: *tersenyum* Aku lupa rasanya cinta, tapi aku sedang jatuh cinta
- Sarah: Hmmm? *mengerutkan dahi* memangnya beda?
- Ibrahim: Menurutku beda
- Sarah: Bagaiman bisa berbeda?
- Ibrahim: Kamu yang sudah menjalin hubungan selama tiga tahun setidaknya pasti bisa memaknai cinta, sedang aku, pria yang selalu terjebak di hubungan jangka pendek, mungkin jauh lebih tau soal jatuh cinta daripada cinta itu sendiri
- Sarah: Hubungan datar dan memilih terus bersama karena keluarga seperti yang sedang aku dan Aryo jalani ini cinta? *tertawa kecil*
- Ibrahim: Bisa jadi, atau justru aku dan kamu yang tidak pernah bersatu karena norma, namun-akhirnya-terus seperti ini adalah cinta. Sedang aku dan beragam perempuan yang aku kagumi selama aku mencoba melupakanmu adalah jatuh cinta
- Sarah: Maksudmu? Apakah waktu yang kamu jadikan acuan untuk memilah pemaknaan cinta dan jatuh cinta?
- Ibrahim: Bukan waktu, tapi kedisiplinan, pengertian, kemampuan untuk menjaga, memaklumi, memaafkan, bertahan, dan mau tetap bersama, itu cinta. Sedang jatuh cinta, kekaguman, gundah yang hadir dengan rasa indah, terbang, lupa kenyataan, lupa hal-hal yang seharusnya, keegoisan untuk memiliki, keras kepala yang memaksakan diri untuk bersama, hilang akal, itu jatuh cinta. Sementara. Semua lenyap jika dihantam lelah, tidak ada kedisiplinan.
- Sarah: Kedisiplinan?
- Ibrahim: Ya, Sarah. Cinta butuh kedisiplinan, aku dan kamu, kamu dan Aryo, kebersamaan kalian, kebersamaan kita, perlu banyak jutan jatuh yang disiplin disisipi cinta agar jatuh cinta terus berlanjut, hingga kata jatuh tidak lagi menggikuti rasa cinta yang dirasa.
- Sarah: Kedisiplinan dalam jatuh cinta, baru bisa disebut cinta?
- Ibrahim: Kedisiplinan dalam membangun dinding-dinding yang membuatmu jatuh terbuai cinta, dinding-dinding keegoisan, dinding-dinding yang menyebabkan jatuhmu terasa sakit. Kedisiplinan dalam memberikan pengertian, kedisiplinan dalam memaafkan, kedisiplinan dalam mempertahankan, kedisiplinan dalam saling mengerti, saling ingin terus bersama
- Sarah: Bersama namun tidak pernah bersatu seperti kita? Disiplin bertahan meski tidak saling mempertahankan seperti kita, apa bisa ini disebut cinta?
- Ibrahim: Iya, Sarah. Kedisiplinan dari aku dan kamu ingin secara sadar tidak ingin menyakiti sekitar dengan kebersamaan kita
- Sarah: Dengan menyakiti masing-masing dari kita?
- Ibrahim: Sore Nanti, Sarah. Sore nanti, ketika kita lelah menyuruh hati kita untuk menyerah, sore nanti seperti sore ini, kita akan bersama. Kedisiplinanku untuk terus membuatmu tersenyum ketika Aryo membuatmu menangis, kedisiplinanmu mencariku ketika kamu merindukan senyumanmu yang tertelan kesinisan drama dunia. Sore nanti, Sarah. Sore nanti, Tuhan pasti kelelahan membuat kita terus menerus jatuh cinta dengan sangat disiplin dan menyatukan kita karena alasan cinta.
- written by : Eka Otto
- Soreh Nanti, Sebuah Pemahaman Utuh Tentang Cinta bagi Saya. Lasam storey - Rafika
Minggu, 30 Juni 2013
Senin, 24 Juni 2013
Sebuah Cerita yang Sama
"Kau tidak harus minta maaf. Meskipun seharusnya kau tahu, setelah kau memutuskan pergi, aku lelah membujuk hatiku agar tegar. Tapi percuma. Menyakitkan. Semua itu membuat sesak. Kalimat itu mungkin benar, ada seseorang dalam hidupmu yang ketika ia pergi, maka ia juga membawa sepotong hatimu..."
"Kau tahu, aku melalui minggu-minggu menyedihkan itu. Dan yang lebih membuat semuanya terasa menyedihkan, aku tidak pernah mengerti mengapa kau pergi. Sesungguhnya aku tidak pernah yakin atas segalanya. Aku tidak pernah baik-baik saja. Enam bulan berlalu, hanya berkutat mengenangmu. Mendendang lagu-lagu patah hati. Membaca buku-buku patah hati. Hidupku jalan di tempat."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kau tahu, di tengah semua kesedihan itu, setidaknya saat itu aku akhirnya menyadari, aku tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup dengan hati yang hanya tersisa separuh. Tidak bisa. Hati itu sudah rusak, tidak utuh lagi. "
Taken From : Sepotong Hati yang Baru-Tereliye
Selasa, 04 Juni 2013
Kepada Hati
Kepada hati yang babak belur bergulat dengan kenangan.
Kepada pikiran yang penuh sesak, hingga akhirnya meledak.
Kepada perasaan-perasaan tak bertuan yang tumbuh dengan liar.
Kepada prasangka, yang membentuk simpul kusut benang merahnya sendiri.
Kepada rasa takut yang dengan lancangnya memangkas keberanian.
Kepada rasa percaya, yang hilang begitu saja.
Kunci saja semuanya, apa yang ada dalam hati dan pikiranmu. Telan bulat-bulat. Barangkali semua orang telah kehabisan tempat, bahkan untuk membuang “sampah”nya sendiri.
Lalu berakhir dengan merutuk, digebuk, kemudian tunduk.
Tidak dengan kata, namun air mata.
Kadang, bukan bahu yang kita butuhkan untuk bersandar, tetapi tempat sujud seluas-luasnya.
Pada akhirnya, kepada-Mu, segalanya kembali.
Lutfhi Rizki :)
Minggu, 02 Juni 2013
TLOW Milad :)
Alarm ku memainkan iramanya dengan melodi keras
Aku memaki benda mati itu
Kupikir kalau benda itu hidup dia akan membalas makian ku sepertinya..
mungkin kira-kira seperti ini..
Hahahaha..
Sudahlah, tak perlu berkhayal lagi.
Aku tertahan pada masa ini, banyak yang ku tahan rasa-rasanya..
Sudah pukul 00.00 wib
Empat jam sebelumnya aku gelisah, bagaimana caranya aku bisa mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung lalu memberikan kejutan dengan hadiah yang sudah kusiapkan beberapa hari sebelumnya dan juga kue yang sudah tertata rapi di ice box.
Tapi ada banyak alasan untuk menahan ku lebih lama..banyak sekali hal yang mendesakku untuk berpikir keras menahan rasa..mengalah..aihh iyaa mengalah..entah untuk siapa..
Akhirnya konsep rencana yang kusiapkan kubatalkan seketika. Gemelut hati.. seperti itu..
Hmm yang jelas tidak penting bagaimana proses itu, cukup aku dan Tuhan lah yang tahu bagaimana gemericik hati yang ku tunda-tunda hingga menumbuhkan rasa yang tidak enak di dada..
Aku..yaa..aku..
satu kalimat yang masih ku ulang, bahkan kutulis ulang lagi di sini..
Tak kunjung juga doa Ibu dan Ayah kakak yang selalu mendedikasikan apapun yang terbaik buat kakak.. sama di sini juga seperti itu.. Berbahagialah kak, dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai kakak..
Untuk segala doa pribadi mu dan doa-doa orang yang mencintai kakak..selalu ada kata..Aaamin di sini..
Aku tersenyum kecil, sudah tau isi alarm itu tanpa harus melihat sekalipun
Dengan sigap aku mematikan alarm ku dan menatap layar handphone ku
" Iron Man BIRTHDAY 23th"
"Hah, tak perlu kau berdentum keraspun dikepala ku sudah ku catat baik-baik tanggal istimewa ini"
Aku memaki benda mati itu
Kupikir kalau benda itu hidup dia akan membalas makian ku sepertinya..
mungkin kira-kira seperti ini..
"Hai bos, iya kau bosnya. Maki saja aku tapi kau yang bodoh sudah tau kau yang mencatat dan memberi tanda reminder untuk tanggal ini malah kau maki aku".
Hahahaha..
Sudahlah, tak perlu berkhayal lagi.
Aku tertahan pada masa ini, banyak yang ku tahan rasa-rasanya..
Sudah pukul 00.00 wib
Empat jam sebelumnya aku gelisah, bagaimana caranya aku bisa mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung lalu memberikan kejutan dengan hadiah yang sudah kusiapkan beberapa hari sebelumnya dan juga kue yang sudah tertata rapi di ice box.
Tapi ada banyak alasan untuk menahan ku lebih lama..banyak sekali hal yang mendesakku untuk berpikir keras menahan rasa..mengalah..aihh iyaa mengalah..entah untuk siapa..
Akhirnya konsep rencana yang kusiapkan kubatalkan seketika. Gemelut hati.. seperti itu..
Hmm yang jelas tidak penting bagaimana proses itu, cukup aku dan Tuhan lah yang tahu bagaimana gemericik hati yang ku tunda-tunda hingga menumbuhkan rasa yang tidak enak di dada..
Aku..yaa..aku..
satu kalimat yang masih ku ulang, bahkan kutulis ulang lagi di sini..
Selamat Ulang Tahun Kak Tony StarkAihh rasanya bahagiamu dan senyummu menghiasi hari lahir mu ini menjadi alat pacu energi untukku, kak..
Tak kunjung juga doa Ibu dan Ayah kakak yang selalu mendedikasikan apapun yang terbaik buat kakak.. sama di sini juga seperti itu.. Berbahagialah kak, dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai kakak..
Untuk segala doa pribadi mu dan doa-doa orang yang mencintai kakak..selalu ada kata..Aaamin di sini..
Hai this is for you :)
Berjalanlah seperti biasa, seperti biasa ketika kamu menjadi seorang yang selalu kukagumi.
Bersinarlah seperti biasa, seperti biasa ketika kamu menjadi seorang yang selalu kuandalkan.
Berjalanlah, bersinarlah, dan saatnya yang senantiasa ada untukmu akan datang.
Semoga setiap langkah yang kamu ambil adalah langkah yang terbaik
Dan setiap jejak yang kamu ciptakan adalah rekaman yang bersejarah
Di sini selalu setia menyebut mu dalam doa
Bersinarlah Muhammad Gozyali yang TLOW (pasti ngerti yaa singkatannya, ihihi)
Kamis, 30 Mei 2013
Pertemuan Jodoh
Pernahkah dalam satu waktu dalam hidup kita, kita merasa bertemu dengan jodoh kita?
Jodoh tentu saja tidak hanya tentang perkara seseorang yang akan menjadi pasangan hidup kita, lebih luas dari itu jodoh adalah teman baik, keluarga dekat, dan orang-orang dimuka bumi ini yang ditakdirkan bertemu dengan kita pada suatu ketika dan menyentuh perasaan kita dengan persahabatan, dengan kebaikan, dan dengan apapun yang membuat kita merasa nyaman berada di dekat mereka.
Pernah satu kali dalam kesempatan hidup, aku bertemu seseorang yang sama sekali tak pernah aku kenal. Mengenal sebentar dan kemudian aku merasa seperti menemukan diriku sendiri pada dirinya.
Ini seperti ketika kita bercermin, kita menemukan diri kita sendiri pada sisi yang berlawanan. Memperlihatkan apa yang sebenarnya tampak dalam diri kita. Lebih dari itu, kita mengetahui pikiran orang dalam cermin karena memang dialah diri kita.
Masing-masing kita memang diciptakan dalam kehilangan, hidup adalah sebuah pencarian yang panjang. Pencarian kepingan-kepingan diri kita yang hilang tercecer dan berada pada orang lain.
Kadang kita mengenal diri kita sendiri justru dari orang lain. Kadang kita justru melihat diri kita ada pada orang lain. Bagi yang menemukan pasangan hidup, dia justru merasa utuh ketika berdua, bukan ketika seorang diri.
Hidup adalah sebuah pencarian diri sendiri, kita akan selalu membutuhkan orang lain untuk melengkapi cerita kita masing-masing. Itulah jodoh kita. Orang-orang yang melengkapi cerita kita menjadi utuh. Yang memperkenalkan diri kita kepada kita sendiri.
Aku pun begitu, aku mengenal diriku sendiri justru ketika aku berusaha keras mengenalmu :)
kurniawangunadi :")
Minggu, 26 Mei 2013
Bisakah kau mengubah analogi ku ini, jujur aku tak ingin menggantung seperti sebuah layang-layang!
Aku ini seperti sebuah layang-layang, bukankah begitu, sayang?
Dan kau langitnya, anggaplah begitu..
Kau begitu jauh, kau begitu tinggi
Bagaimana bisa aku terus keras kepala untuk berjuang menggapaimu?
Aku seharusnya tahu diri
Menggapai mu itu seperti sebuah impian
Menggapai mu itu seperti megira kalau kau jodoh ku tapi ternyata bukan
Aku akan talik ulur benang ku menggulungnya kembali agar tak menggantung
Pada akhirnya,
Aku hanya akan tetap menjadi sebuah layang-layang yang setia pada langitnya
Dan kau langitnya, anggaplah begitu..
Kau begitu jauh, kau begitu tinggi
Bagaimana bisa aku terus keras kepala untuk berjuang menggapaimu?
Aku seharusnya tahu diri
Menggapai mu itu seperti sebuah impian
Menggapai mu itu seperti megira kalau kau jodoh ku tapi ternyata bukan
Aku akan talik ulur benang ku menggulungnya kembali agar tak menggantung
Pada akhirnya,
Aku hanya akan tetap menjadi sebuah layang-layang yang setia pada langitnya
"Tuhan mengapa Engkau masih saja senang memberikan langit yang sama, langit yang takkan mungkin bisa ku raih?"
Dingin
Malam ini, aku tak pernah merasa sedingin ini.
Sekali dua kali aku menatap layar laptop
Sekali dua kali juga aku terjun ke atas kasur lalu bersembunyi di balik selimut tebal
Rasa-rasanya dingin ini sampai tak dapat aku definisikan dengan pasti
Bahkan saat menulis ini pun, kaki ku terasa kaku
Aku tersadar, larut ku hari ini hampir saja membunuhku dalam hujan yang meringkuk dingin.
Aku tersadar, lamunan ku menampar ku sendiri karena terlalu egois membayangkan kebahagiaan orang lain
Aku tersadar, aku menyakiti diriku lagi dengan menciptakan cerita tentang kau yang sedang berbahagia dengan yang lain.
Dingin ini, memaksa ku untuk lelah!
Sekali dua kali aku menatap layar laptop
Sekali dua kali juga aku terjun ke atas kasur lalu bersembunyi di balik selimut tebal
Rasa-rasanya dingin ini sampai tak dapat aku definisikan dengan pasti
Bahkan saat menulis ini pun, kaki ku terasa kaku
Aku tersadar, larut ku hari ini hampir saja membunuhku dalam hujan yang meringkuk dingin.
Aku tersadar, lamunan ku menampar ku sendiri karena terlalu egois membayangkan kebahagiaan orang lain
Aku tersadar, aku menyakiti diriku lagi dengan menciptakan cerita tentang kau yang sedang berbahagia dengan yang lain.
Dingin ini, memaksa ku untuk lelah!
Kamis, 16 Mei 2013
*percakapan ringan yang berat : |*
- *duduk di warung makan di siang terik*
- a : lah pie nduk? masih ra penakan badan mu?
- b : mbuhlah mas, se-ora-ora penakan badan lebih ra penakan hati :|
- a : lah kowe, badan sakit masih ngurusin cinta-cintaan.
- b : *nyimak* *ketawa kecil*
- a : nduk..nduk..biar cinta temukan takdirnya sendiri..
- b : *nyimak lagi* *ketawa sedang*
- a : lah? pie toh, malah ngekeh, mbuhlah.. sing penting kowe sembuhin hati dulu, perbaikin diri.. nanti kalo udah kabari ya biar tak datangin orang tua kamu terus tak lamar!!!
- b : *nyimak banget* *diam* *mikir* *natap si b sambil ketawa kenceng-kenceng*
- a : *speechless* *ikutan ketawa* *bingung*
- kemudian a dan b berlalu arah pergi dengan meninggalkan dialog singkat yang menusuk.. lah ini apa? ra paham!!
Jumat, 10 Mei 2013
Cerpen : Jadilah Seperti Kaktus
Sebut saja namanya Andin, seorang gadis periang, tinggal dengan seorang nenek yang sudah berumur 70 tahun. Ayah dan Ibunya telah lama berpisah sejak ia berumur 13 tahun. Bukankah menyakitkan? Di saat dia masih ingin di peluk dan kasihi dengan kasih orang tuanya, dia tak sempat merasakan indahnya hidup dengan keluarga bahagia. Ayahnya telah lama berumah tangga lagi dengan wanita lain. Sedangkan Ibunya telah lama bekerja di luar negri. Sampai saat ini, raga Andin baik-baik saja namun hati dan perasaannya begitu telantar. Malam ini Andin sendiri, mengingat satu tahun silam. Tepatnya di hari ia merayakan ulang tahunnya bersama nenek yang ia cintai.
"Selamat ulang tahun yang ke 19 tahun, sayang". Nenek mengucapkan sambil memberi Andin hadiah sebuah baju rajutan.
Entahlah setiap Ulang Tahun rasanya Andin selalu saja menerima hadiah yang tak terlewatkan oleh neneknya yang ia sayangi. Hadiah yang sama. Sebuah rajutan, entah itu dalam bentuk baju, syal, atau lainnya. Sampai Andin hafal betul, ciri khas rajutan neneknya. Malam ini Andin memeluk erat-erat seluruh hadiah yang ia dapati dari neneknya. Ada delapan rajutan berarti ada delapan hadiah yang Andin dapat sedari ia berumur 13 sampai dengan 19 tahun.
Dua belas jam yang lalu....
Ini adalah pertama kali di dalam hidup Andin, mempunyai seorang kekasih. Tio sebut saja, laki-laki yang cukup gagah ini adalah pacar Andin yang pertama. Betapa tidak senangnya Andin, setelah lama sendiri ia mempuyai seseorang yang dapat dijadikan dia sahabat sekaligus tempat dia berkeluh kesah. Sudah dua bulan Andin menjalani jalinan cinta ini. Dan ini adalah ulang tahun Andin yang pertama kali. Di umurnya yang mnginjak 20 tahun. Andin dan Tio berencana untuk merayakannya bersama di sebuah cafe. Dan ini juga yang pertama dia melewati ulang tahun tanpa neneknya.
"Ndin, plis percaya gue". Dika mengirimkan pesan singkat untuk Andin
"Plis juga dik, jangan bikin kacau hari lahir gue. Gue gak pengen denger yang aneh-aneh". Andin membalasnya.
"Terserah elo, gue cuma gak mau lo kenapa-kenapa." Balas Dika
Dika merupakan sahabat Andin, semenjak ia berumur 9 tahun. Sudah lama Dika sebenarnya menaruh rasa untuk Andin hanya saja dia diam selama ini. Dika cukup menikmati persahabatannya, namun semuanya berubah ketika Andin berpacaran dengan Tio. Karena khawator dengan sms dari Dika. Andin coba mengubungi Dika.
"Kamu dimana?"
"Lagi di jalan nih, sabar ya"
"Udah dua jam yo, kenapa lama banget?"
"Ia aku ada urusan bentar"
"Yaudah, aku tunggu kamu"
Andin menutup telfonnya. Sudah dua jam lagi berlalu. Pukul sudah menunjukkan jam 10 malam. Andin masih menunggu. Tak lama telfon berdering. Bergegas Andin mengangkatnya.
"Halo"
"Kapan pulang, nak?"
"Yah, aku kira siapa ternyata nenek. Mungkin masih lama nek"
"Cepet pulang ya nak, ada yang nenek mau sampaikan"
"Mau ucapin selamat ulang tahun ya? yaudah nek, sekarang aja gapapa. Paling juga hadiah nenek rajutan lagi. Aku lagi nungguin Tio nih nek, siapa tahu dapat hadiah yang lebih kece"
"oh yasudah, selepas itu langsung pulang ya"
"Okee nek"
Sudah pukul 23.00 . Tio masih juga belum datang. Muncul seorang pria dari sudut pintu menghampiri Andin. Dan ternyata bukan Tio, melainkan Dika.
"Lo ngapain kesini Dik?"
"Jemput elo, udah malam. Kita pulang"
"Gak. Gue masih nunggu Tio"
"Ah. Ngapain lo nungguin orang yang udah nelantarin elo"
"Dia janji bakal datang kok"
"Seperti janji bokap atau nyokap lo yang bakal mau ngurusin elo? Tapi mana?"
"Dik..."
"Udahlah. Ayuk!"
Dika memaksa Andin pergi dari cafe itu. Akhirnya mereka beranjak keluar. Dengan perasaan yang gusar sambil menahan tangis. Andin coba menahan, namu seketika pecah. Dalam perjalanan pulang Andin melihat Tio sedang memegang mesra tangan wanita lain. Tanpa perasaan bersalah Tio hanya melewati Andin dengan mimik wajah yang biasa-biasa saja. Seolah tak terjadi apa-apa. Andin berlari kencang meninggalkanj pemandangan yang tidak sedap tadi. Lalu Dika ikut menyusul. Andin berlalri menuju arah pulang rumah. Seketika ia melihat neneknya yang sedang tergeletak di depan pintu rumah. Ia melihat kue ulang tahun dan lilin-lilin yang mulai redup dan meleleh. Dan juga sebuah bingkisan kado. Ia berlalri menuju neneknya dan berusaha membangunkannya. Tetapi Tuhan berkata lain, neneknya telah di jemput oleh malaikat menuju singgahsana lain. Tempat peristirahatan abadi. Kemudian dia membaca surat singkat dari neneknya. Sebuah pesan yang sampai saat ini membuat ia selalu bangkit ketika terjatuh. Ia lihat bingkisan kado itu bukan lagi sebuah rajutan. Tapi sebuah tanaman kaktus.
"Jadilah seperti kaktus, cantik namun tidak lemah... Mampu bertahan dengan atau tanpa air...seperti hidup yang terus berputar... Terkadang beruntung, bahagia, namun tak jarang sangat memilukan... Apapun itu tetap bersyukur dan bertahan menghadapi ujian hidup...Selamat ulang tahun, selamat berjuang"
*cerpen pertama edisi mei 2013* *terinpirasi ketika nyiram kaktus di kos*
"
Senin, 15 April 2013
Hanya Ingin Bercerita
Sekiranya aku sangat menghargai hak atas perasaan yang dimiliki setiap insan
Tetapi aku jauh lebih menghargai ketika diantara kalian tidak ada menuntut ingin memiliki.
Tuhan menyadarkan ku, aku dikelilingi oleh orang-orang yang tegas menyatakan "Mencintaiku"
Tanpa menuntut untuk meminta balik merasakan hal yang sama dariku.
Walau aku masih belum mampu membuka sedikit saja perasaan untuk orang lain
Tanpa egois, ada yang tetap menunggu sampai aku pulih lagi
Walau tidak ada jaminan untuk aku bisa menghapus rasa masa lalu.
Ada yang tetap mendampingi, memberi energi, melindungi, dan menghibur.
Betapa aku selalu melupakan ini, orang - orang yang selalu menghabiskan waktunya untuk menciptakan kenangan bersama ku.
Akhirnya aku sadar, aku lah yang egois.
Hampir waktu yang kuhabiskan bersamanya, aku sibuk menunggu orang lain dengan harapan yang sama, kembali lagi. Padahal ada hal yang pura-pura tidak ku sadari, dia takkan kembali. Tetapi aku tetap keras kepala. Sayangnya aku belum mau menyadarinya. :)
Kamis, 11 April 2013
Akhirnya Aku Temukan
Tuhan menjawabnya, begitu kesimpulannya..
Pada akhirnya saya paham, Tuhan memberikan manusia sebuah proses untuk dapat kita memahami jawaban arti dari setiap doa. Dua minggu terhitung mundur dari sekarang, kurang lebihnya saya dapat menyimpulkan arti dari pelarian saya dalam beberapa masalah perasaan yang kompleks saya alami. Ya, benar sekali manusia akan condong memakai hubungan "emosionalnya" ketika berhadapan dengan permasalahan hati. Diam-diam melalui beberapa proses Tuhan telah menyelipkan jawaban atas doa saya. Penuh rasa syukur atas ini, karena apa yang saya jalani saat ini adalah bentuk idealisme saya dalam berpikir.
Masih ingat, dua minggu lebih yang lalu adalah masa dimana rasanya saya benar-benar hilang kendali atas nama perasaan. Sempat saya menuliskan dan meminta kepada Tuhan sebuah perpisahan yang sungguh-sungguh dengan dia. Atas perasaan saya yang pamrih untuk dapat dia membalas setiap kasih yang saya beri, atas keegoisan saya dalam berpikir. Disanalah ekspetasi itu melahirkan sebuah kerunyaman perasaan. Masih jelas rasanya saya menuntut untuk jauh dan menghilang, tetpi justru dua minggu yang saya lewati itu mengajarkan saya menjadi wanita yang menginjak anak tangga yang disebut "kedewasaan".
Masih tidak asing rasanya ketika kemarin saya meminta berhenti memikirkannya lalu meminta berhenti mencintainya. Untungnya dalam doa saya menyelipkan sebuah kalimat "beri kekuatan". Dan untungnya lagi Tuhan, memberi saya jawaban atas permintaan saya tentang makna kalimat "kekuatan". Dimana ketika saya ingin mencoba berhenti memikirnya Tuhan malah mendekatkannya lagi, lalu ketika saya berharap bisa berhenti mencintainya Tuhan malah meng"kado"kan sebuah cinta yang dahsyat untuknya, semakin bertambah istilahnya. Dan ketika saya berharap tidak ingin menjumpainya lagi tetapi Tuhan jelas-jelas mempertemukannya lagi dihadapan saya.
Kemudian saya pahami, maksud dari kejadian-kejadian ini. Tuhan sangat adil, begitu adilnya. Setelah saya melalui beberapa proses panjang tadi kemudian Tuhan memberikan saya kekuatan lebih dalam hal perasaan. Tuhan menghadiahkan saya sebuah pola pikir yang merdeka dan sebuah hati yang kuat dan kokoh. Saya bukan merawat dan menjaga luka saya, bukan karena itu saya ingin tetap bertahan atas posisi saya. Tetapi selebihnya saya bertahan karena saya yakin hubungan dan tali persaudaraan yang saya bangun dengan dia jauh lebih berarti dan bermanfaat, ketimbang saya harus egois memikirkan perasaan saya.
Terakhir, kesimpulan yang tak kalah pentingnya. Yang harus saya pikirkan juga adalah masa-masa PMS, dimana masa-masa itu adalah masa-masa kegalauan yang sangat mengkudeta perasaan saya. Jadi saya harus sangat waspada karena ketika saya PMS ada bisikan-bisikan sikap ke-anak-anakan itu muncul. Dan saya tidak mau membuat kekuatan dan pertahanan saya runtuh karena masalah perasaan yang egois.
Pada akhirnya saya paham, Tuhan memberikan manusia sebuah proses untuk dapat kita memahami jawaban arti dari setiap doa. Dua minggu terhitung mundur dari sekarang, kurang lebihnya saya dapat menyimpulkan arti dari pelarian saya dalam beberapa masalah perasaan yang kompleks saya alami. Ya, benar sekali manusia akan condong memakai hubungan "emosionalnya" ketika berhadapan dengan permasalahan hati. Diam-diam melalui beberapa proses Tuhan telah menyelipkan jawaban atas doa saya. Penuh rasa syukur atas ini, karena apa yang saya jalani saat ini adalah bentuk idealisme saya dalam berpikir.
Masih ingat, dua minggu lebih yang lalu adalah masa dimana rasanya saya benar-benar hilang kendali atas nama perasaan. Sempat saya menuliskan dan meminta kepada Tuhan sebuah perpisahan yang sungguh-sungguh dengan dia. Atas perasaan saya yang pamrih untuk dapat dia membalas setiap kasih yang saya beri, atas keegoisan saya dalam berpikir. Disanalah ekspetasi itu melahirkan sebuah kerunyaman perasaan. Masih jelas rasanya saya menuntut untuk jauh dan menghilang, tetpi justru dua minggu yang saya lewati itu mengajarkan saya menjadi wanita yang menginjak anak tangga yang disebut "kedewasaan".
Masih tidak asing rasanya ketika kemarin saya meminta berhenti memikirkannya lalu meminta berhenti mencintainya. Untungnya dalam doa saya menyelipkan sebuah kalimat "beri kekuatan". Dan untungnya lagi Tuhan, memberi saya jawaban atas permintaan saya tentang makna kalimat "kekuatan". Dimana ketika saya ingin mencoba berhenti memikirnya Tuhan malah mendekatkannya lagi, lalu ketika saya berharap bisa berhenti mencintainya Tuhan malah meng"kado"kan sebuah cinta yang dahsyat untuknya, semakin bertambah istilahnya. Dan ketika saya berharap tidak ingin menjumpainya lagi tetapi Tuhan jelas-jelas mempertemukannya lagi dihadapan saya.
Kemudian saya pahami, maksud dari kejadian-kejadian ini. Tuhan sangat adil, begitu adilnya. Setelah saya melalui beberapa proses panjang tadi kemudian Tuhan memberikan saya kekuatan lebih dalam hal perasaan. Tuhan menghadiahkan saya sebuah pola pikir yang merdeka dan sebuah hati yang kuat dan kokoh. Saya bukan merawat dan menjaga luka saya, bukan karena itu saya ingin tetap bertahan atas posisi saya. Tetapi selebihnya saya bertahan karena saya yakin hubungan dan tali persaudaraan yang saya bangun dengan dia jauh lebih berarti dan bermanfaat, ketimbang saya harus egois memikirkan perasaan saya.
Ada hal-hal penting yang bisa saya pelajari, dalam berbagi cinta tidak selamanya kita harus saling memiliki tetapi sebenarnya adalah untuk saling mendukung, menguatkan, mengingatkan, dan memberitahu ketika salah. Karena itulah cinta yang hakiki.
Jumat, 15 Maret 2013
Kepada : Tuhan
Entah mengapa ada energi besar yang tersembunyi ketika aku memilih untuk menulis doaku yang ku alamatkan untuk Mu entah mengapa seolah-olah aku ingin mengabadikan doa-ku dalam bentuk kalimat yang terikat satu dengan lainnya. Entah mengapa rasa-rasanya Engkau akan membaca apa yang aku tulis daripada yang kulisankan. Walau pada dasarnya aku menyukai keduanya lisan atau tulisan. Tapi ada rasa nyaman ketika aku harus menulis apa yang ku rasa dalam sebuah kalimat yang dapat ku abadikan.
Aku tak mau terlalu lama menjabarkan alasan. Tuhan, aku ingin meminta sesuatu. Mungkin dalam beberapa hari terakhir aku selalu merengek meminta ini. Aku sadar betul akhir-akhir ini terlalu banyak air mata yang aku buat meresap di kasur, bantal, guling atau selimut. Mereka sudah terbiasa menerima banjir dari mataku. Tak salah mereka menjadi teman akrabku yang tak hidup dan tak berbicara. Aku tau betul, aku bukan tipe perempuan yang mampu bercerita tentang masalah pribadiku ke setiap orang, . Tau betul, kalau aku tipe yang sangat suka memendam perasaan karena sadar bercerita hanya akan membuat diriku tertuduh sebagai drama queen. Aku lebih suka seperti ini Tuhan, bercerita melalui perbincangan dengan-Mu, menulis, menumpah kan rasa melalui rangkaian kata. Aku hanya akan sedikit terobati seperti ini.
Begini, aku ingin Engkau kuatkan. Sungguh. Seberapapun besarnya masalah dan sakit yang kuterima aku hanya ingin Engkau kuatkan tanpa harus meminta untuk menyederhanakan masalah atau mengemis untuk menghilangkan rasa sakit.
Aku punya banyak pertanyaan yang diawali dengan kata 'kapan'. Tapi sudah terlalu sering aku pertanyakan. Dan aku tahu bahwa Engkau paham. Tuhan, kali ini aku ingin meminta sebuah perpisahan. Perpisahan yang sungguh-sungguh. Tolong tuliskan di kitab perjalanan milik dia, dia yang Engkau tahu siapa. Jika bisa, tolong buatkan aku semesta satu lagi agar berbeda dari semestanya. Jangan sisipkan pertemuan dan perjumpaan yang akan menciptakan perasaan ini semakin dalam untuknya.
Tuhan, biarkan aku berlaku seperti orang waras. Aku sudah lama seperti orang yang kehilangan kewarasan ketika mengingatnya ketika tahu dia bukan untukku atau aku semakin tidak waras jika cemburu dan rindu mengkoyak-koyakan hati yang jumlahnya hanya satu ini. Aku sudah lama menjaga perasaan orang disekitarnya sehingga membuat aku lebih tulen menyakiti perasaan ku sendiri. Terang saja aku menemukannya, dan kehilangan. Menjumpainya lagi lalu kehilangan lagi. Aku mau terus waras. Tidak seperti ini.
Aku tahu dia akan kecewa membaca ini. Aku tahu dia akan mulai lain untuk menilaiku. Aku tahu dia akan menyediakan kesimpulan-kesimpulan dan argumen - argumen keras bahwa aku bahagia melakukan ini. Bahwa ini memang keinginan aku yang terdalam. Tapi tak apalah, dia bukan mentri dan aku bukan staffnya. Jadi hanya aku dan Engkau yang paham mengapa aku meminta perpiasahan ini.
Tuhan, aku yakin pasti Engkau telah menyiapkan hal-hal yang jauh lebih baik. Ada banyak hal yang telah kamu tuliskan dalam kitab perjalanan ku. Entah itu kapan masih ada sisa harapan untuk menjumpainya lagi di dimensi masa depan. Dengan jiwa yang lebih baik dan dengan perasaan yang berbeda. Entah aku sebagai siapa dia nanti. Tapi buatlah dia selalu bahagia, tolong tuliskan lagi di kitab perjalanan miliknya, Tuhan.
Ajari aku ikhlas, agar aku tegas dan bijaksana. Aku sadar aku masih buta huruf. Aku sadar ketika aku menulis ini dan ketika aku meminta kepadanya untuk menjauh, juga untuk menjaga jarak. Aku sadar ini sudah Engaku tuliskan dalam kitab perjalananku. Aku dan dia hanya perlu lebih memahami. Kenapa ini terjadi. Ini kehendak Nya.
Semoga aku dan dia masih bisa menyambung silaturahim lagi, nanti. Ketika aku sudah waras dari perasaan yang tak terbalas.
Kepada Mu, Tuhan, Ya Rabbi, bacalah :)
Rabu, 06 Februari 2013
Wish 20th in 2013
Selamat malam, harapan
Jika kamu berwujud, tentu kamu orang yang spesial. Aku tak pernah tahu mengapa setiap orang memiliki kamu. Aku tak pernah tahu berapa banyak orang menyebutkan mu dalam setiap perbincangan mereka dengan Tuhan. Tapi aku mengerti mengapa kamu harus dimiliki karena hidup adalah sebuah harapan dimana harapan satu menciptakan harapan-harapan lainnya. Mungkin itulah mengapa Tuhan menghadiakan pikiran untuk kita membuat harapan lalu mewujudkannya.
Hai, harapan
Aku tak bisa mendefinisikan mu secara kompeherensif. Karena setiap orang pasti mempunyai penilaian atas mu. Setiap orang berhak memilikimu. Termasuk aku. Bagiku harapan i adalah sesuatu yang abstrak-konsisten yang belum terealisasi tanpa usaha dan izin Tuhan.
Kini aku memiliki mu,
20 tahun sudah aku menjalani hidup. Tentu berapa banyak sudah aku melahirkan harapan-harapan. Mungkin sudah ada yang terwujud ada juga yang belum. Aku semakin tua , hai harapan. Boleh aku menciptakan harapan baru lagi lalu aku sampaikan kepada Yang Menciptakan ku. Kau pasti akan senang, hai harapan. Karena ketika Tuhan telah mereceive permintaanku. Tentu kau akan berwujud dan aku pasti akan melukiskannya dengan bahagia.
Tak perlulah aku beberkan apa yang ku sampaikan kepada Tuhan.
Cukuplah aku dan Tuhan yang tahu.
Tapi aku sangat berterimakasih kepadamu, hai harapan.
Jika kau tak ada matilah mimpiku.
Selamat datang umur 20 tahun.
Semoga harapan-harapan dapat Allah SWT merangkulnya. Aaamin
Jika kamu berwujud, tentu kamu orang yang spesial. Aku tak pernah tahu mengapa setiap orang memiliki kamu. Aku tak pernah tahu berapa banyak orang menyebutkan mu dalam setiap perbincangan mereka dengan Tuhan. Tapi aku mengerti mengapa kamu harus dimiliki karena hidup adalah sebuah harapan dimana harapan satu menciptakan harapan-harapan lainnya. Mungkin itulah mengapa Tuhan menghadiakan pikiran untuk kita membuat harapan lalu mewujudkannya.
Hai, harapan
Aku tak bisa mendefinisikan mu secara kompeherensif. Karena setiap orang pasti mempunyai penilaian atas mu. Setiap orang berhak memilikimu. Termasuk aku. Bagiku harapan i adalah sesuatu yang abstrak-konsisten yang belum terealisasi tanpa usaha dan izin Tuhan.
Kini aku memiliki mu,
20 tahun sudah aku menjalani hidup. Tentu berapa banyak sudah aku melahirkan harapan-harapan. Mungkin sudah ada yang terwujud ada juga yang belum. Aku semakin tua , hai harapan. Boleh aku menciptakan harapan baru lagi lalu aku sampaikan kepada Yang Menciptakan ku. Kau pasti akan senang, hai harapan. Karena ketika Tuhan telah mereceive permintaanku. Tentu kau akan berwujud dan aku pasti akan melukiskannya dengan bahagia.
Tak perlulah aku beberkan apa yang ku sampaikan kepada Tuhan.
Cukuplah aku dan Tuhan yang tahu.
Tapi aku sangat berterimakasih kepadamu, hai harapan.
Jika kau tak ada matilah mimpiku.
Selamat datang umur 20 tahun.
Semoga harapan-harapan dapat Allah SWT merangkulnya. Aaamin
Sabtu, 12 Januari 2013
Di Sudut Kota Tua
Di sudut kota tua, remang-remang memoar samar perlahan menyimpan kenangannya
Di sudut kota tua, pelan-pelan aku mengeja kembali bait-bait cinta ciptaan-Nya
Di sudut kota tua, jemariku mencari jemari lain untuk disatukan
Di sudut kota tua, aku bermetafosa menjadi serangga bersayap untuk terbang
Di sudut kota tua, alam mendikteku tentang hamparan paparan hijau biru semesta
Di sudut kota tua, Tuhan temukan aku dengan sosok mu yang haru biru
Di sudut kota tua, rasanya bahagia dan sakit sudah merekat jadi ikatan takdir
Di sudut kota tua, janji-janji yang tak terlunasi menangis sejadi-jadinya meminta untuk ditepati
Di sudut kota tua, aku merangkak berdiri ketika jatuh bertubi-tubi
Di sudut kota tua, perihal sulit menjadi parsial dalam perasaan
Di sudut kota tua, aku mulai mengkekalkan nafas-nafas dalam kata
Di sudut kota tua, aku mulai mengenal arah timur, barat, selatan yang mengantarkanku kearah berlainan
Di sudut kota tua, sudah terekam hampir 4 semester sejarah yang menderu-deru tercatat dalam buku yang kunamai 'kenangan di sudut kota Yogyakarta'
Di sudut kota tua, pelan-pelan aku mengeja kembali bait-bait cinta ciptaan-Nya
Di sudut kota tua, jemariku mencari jemari lain untuk disatukan
Di sudut kota tua, aku bermetafosa menjadi serangga bersayap untuk terbang
Di sudut kota tua, alam mendikteku tentang hamparan paparan hijau biru semesta
Di sudut kota tua, Tuhan temukan aku dengan sosok mu yang haru biru
Di sudut kota tua, rasanya bahagia dan sakit sudah merekat jadi ikatan takdir
Di sudut kota tua, janji-janji yang tak terlunasi menangis sejadi-jadinya meminta untuk ditepati
Di sudut kota tua, aku merangkak berdiri ketika jatuh bertubi-tubi
Di sudut kota tua, perihal sulit menjadi parsial dalam perasaan
Di sudut kota tua, aku mulai mengkekalkan nafas-nafas dalam kata
Di sudut kota tua, aku mulai mengenal arah timur, barat, selatan yang mengantarkanku kearah berlainan
Di sudut kota tua, sudah terekam hampir 4 semester sejarah yang menderu-deru tercatat dalam buku yang kunamai 'kenangan di sudut kota Yogyakarta'
Rafika
(Puisi Memasuki Zona Senja di Kamar Kos)
Kamis, 03 Januari 2013
Sudah Satu Bulan
Ini sudah satu bulan aku bertransformasi menjadi kepingan sedih
Ini sudah satu bulan aku tak bisa kembali menjadi seperti dulu
Iya sudah satu bulan dan itu masih saja menghasratkan perasaan yang lelah
Desember yang pekat telah aku lalui tapi megapa mendungnya masih selalu saja mengikuti
Desember yang berair telah ku lalui tapi mengapa basahnya tak mengering
Kepada dia yang selalu saja menjadi mimpi yang tak bisa kugenggam, aku bergantung.
Kepada dia yang selalu saja menjadi khayalan gila tapi tak bisa bersama.
Aku masih tak bisa melepasnya, masih saja butuh hadirnya,
Mengapa aku?
Desember telah berlalu, satu bulan jarak yang sudah menamai kita "bukan apa-apa"
Lalu mengapa aku masih saja keras kepala menganggap mu.
Kapan aku sadar? Kapan aku bisa lepas darinya? Kapan aku kuat tanpa dia?
Sudah satu bulan. Sudah berakhir memang. Tapi kita tetap bersama menjalani hari seperti biasa, katamu.
Kita tetap saling memberi perhatian. Kita tetap saling melantunkan kata "sayang". Kita juga saling meleburkan rindu berdua. Kita masih saja saling tertawa bersama. Memaki kehidupan. Kita bisa habiskan waktu seharian untuk bercumbu pada kenangan.
Tapi diantara semua yang kita lakukan itu. Ada harapan-harapan kosong memelukku. Harapan yang selalu mendeklarasikankan kesedihan.
Sudah satu bulan dan rasa itu masih sama hanya saja frekuensinya semakin bertambah. Entahlah, tidak memiliki mu bukan menjadi alasanku untuk menyudahi rasa sayang ini. Tidak sama sekali.
Sudah satu bulan, tanah masih mengecup lembapnya. Hujan masih menggebu-gebu untuk mengeluarkan risaunya. Dan akupun begitu, sama masih saja mengecup kenangan itu juga sama mengeluarkan air mata yang kadang aku sudah hafal rasa "asin"-nya ketika bermuara di sudut bibirku.
Sudah satu bulan, memang berat rasanya. Melewatkanmu pun tak bisa, sayang.
Langganan:
Postingan (Atom)


