CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 12 Januari 2013

Di Sudut Kota Tua

Di sudut kota tua, remang-remang memoar samar perlahan menyimpan kenangannya

Di sudut kota tua, pelan-pelan aku mengeja kembali bait-bait cinta ciptaan-Nya

Di sudut kota tua, jemariku mencari jemari lain untuk disatukan

Di sudut kota tua, aku bermetafosa menjadi serangga bersayap untuk terbang

Di sudut kota tua, alam mendikteku tentang hamparan paparan hijau biru semesta

Di sudut kota tua, Tuhan temukan aku dengan sosok mu yang haru biru

Di sudut kota tua, rasanya bahagia dan sakit sudah merekat jadi ikatan takdir

Di sudut kota tua, janji-janji yang tak terlunasi menangis sejadi-jadinya meminta untuk ditepati

Di sudut kota tua, aku merangkak berdiri ketika jatuh bertubi-tubi

Di sudut kota tua, perihal sulit menjadi parsial dalam perasaan

Di sudut kota tua, aku mulai mengkekalkan nafas-nafas dalam kata

Di sudut kota tua, aku mulai mengenal arah timur, barat, selatan yang mengantarkanku kearah berlainan

Di sudut kota tua, sudah terekam hampir 4 semester sejarah yang menderu-deru tercatat dalam buku yang kunamai 'kenangan di sudut kota Yogyakarta'


Rafika
(Puisi  Memasuki Zona Senja di Kamar Kos)



Kamis, 03 Januari 2013

Sudah Satu Bulan

Ini sudah satu bulan aku bertransformasi menjadi kepingan sedih

Ini sudah satu bulan aku tak bisa kembali menjadi seperti dulu

Iya sudah satu bulan dan itu masih saja menghasratkan perasaan yang lelah

Desember yang pekat telah aku lalui tapi megapa mendungnya masih selalu saja mengikuti

Desember yang berair telah ku lalui tapi mengapa basahnya tak mengering

Kepada dia yang selalu saja menjadi mimpi yang tak bisa kugenggam, aku bergantung.

Kepada dia yang selalu saja menjadi khayalan gila tapi tak bisa bersama.

Aku masih tak bisa melepasnya, masih saja butuh hadirnya,

Mengapa aku?

Desember telah berlalu, satu bulan jarak yang sudah menamai kita "bukan apa-apa"

Lalu mengapa aku masih saja keras kepala menganggap mu.

Kapan aku sadar? Kapan aku bisa lepas darinya? Kapan aku kuat tanpa dia?

Sudah satu bulan. Sudah berakhir memang. Tapi kita tetap bersama menjalani hari seperti biasa, katamu.

Kita tetap saling memberi perhatian. Kita tetap saling melantunkan kata "sayang". Kita juga saling meleburkan rindu berdua. Kita masih saja saling tertawa bersama. Memaki kehidupan. Kita bisa habiskan waktu seharian untuk bercumbu pada kenangan. 

Tapi diantara semua yang kita lakukan itu. Ada harapan-harapan kosong memelukku. Harapan yang selalu mendeklarasikankan kesedihan. 

Sudah satu bulan dan rasa itu masih sama hanya saja frekuensinya semakin bertambah. Entahlah, tidak memiliki mu bukan menjadi alasanku untuk menyudahi rasa sayang ini. Tidak sama sekali.

Sudah satu bulan, tanah masih mengecup lembapnya. Hujan masih menggebu-gebu untuk mengeluarkan risaunya. Dan akupun begitu, sama masih saja mengecup kenangan itu juga sama mengeluarkan air mata yang kadang aku sudah hafal rasa "asin"-nya ketika bermuara di sudut bibirku.

Sudah satu bulan, memang berat rasanya. Melewatkanmu pun tak bisa, sayang.