CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 30 Mei 2013

Pertemuan Jodoh

Pernahkah dalam satu waktu dalam hidup kita, kita merasa bertemu dengan jodoh kita?
Jodoh tentu saja tidak hanya tentang perkara seseorang yang akan menjadi pasangan hidup kita, lebih luas dari itu jodoh adalah teman baik, keluarga dekat, dan orang-orang dimuka bumi ini yang ditakdirkan bertemu dengan kita pada suatu ketika dan menyentuh perasaan kita dengan persahabatan, dengan kebaikan, dan dengan apapun yang membuat kita merasa nyaman berada di dekat mereka.
Pernah satu kali dalam kesempatan hidup, aku bertemu seseorang yang sama sekali tak pernah aku kenal. Mengenal sebentar dan kemudian aku merasa seperti menemukan diriku sendiri pada dirinya.
Ini seperti ketika kita bercermin, kita menemukan diri kita sendiri pada sisi yang berlawanan. Memperlihatkan apa yang sebenarnya tampak dalam diri kita. Lebih dari itu, kita mengetahui pikiran orang dalam cermin karena memang dialah diri kita.
Masing-masing kita memang diciptakan dalam kehilangan, hidup adalah sebuah pencarian yang panjang. Pencarian kepingan-kepingan diri kita yang hilang tercecer dan berada pada orang lain.
Kadang kita mengenal diri kita sendiri justru dari orang lain. Kadang kita justru melihat diri kita ada pada orang lain. Bagi yang menemukan pasangan hidup, dia justru merasa utuh ketika berdua, bukan ketika seorang diri.
Hidup adalah sebuah pencarian diri sendiri, kita akan selalu membutuhkan orang lain untuk melengkapi cerita kita masing-masing. Itulah jodoh kita. Orang-orang yang melengkapi cerita kita menjadi utuh. Yang memperkenalkan diri kita kepada kita sendiri.
Aku pun begitu, aku mengenal diriku sendiri justru ketika aku berusaha keras mengenalmu :)


kurniawangunadi :")
 

Minggu, 26 Mei 2013

Bisakah kau mengubah analogi ku ini, jujur aku tak ingin menggantung seperti sebuah layang-layang!

Aku ini seperti sebuah layang-layang, bukankah begitu, sayang?

Dan kau langitnya, anggaplah begitu..

Kau begitu jauh, kau begitu tinggi

Bagaimana bisa aku terus keras kepala untuk berjuang menggapaimu?

Aku seharusnya tahu diri

Menggapai mu itu seperti sebuah impian

Menggapai mu itu seperti megira kalau kau jodoh ku tapi ternyata bukan

Aku akan talik ulur benang ku menggulungnya kembali agar tak menggantung

Pada akhirnya,

Aku hanya akan tetap menjadi sebuah layang-layang yang setia pada langitnya

"Tuhan mengapa Engkau masih saja senang memberikan langit yang sama, langit yang takkan mungkin bisa ku raih?"

Dingin

Malam ini, aku tak pernah merasa sedingin ini.
Sekali dua kali aku menatap layar laptop
Sekali dua kali juga aku terjun ke atas kasur lalu bersembunyi di balik selimut tebal

Rasa-rasanya dingin ini sampai tak dapat aku definisikan dengan pasti
Bahkan saat menulis ini pun, kaki ku terasa kaku

Aku tersadar, larut ku hari ini hampir saja membunuhku dalam hujan yang meringkuk dingin.

Aku tersadar, lamunan ku menampar ku sendiri karena terlalu egois membayangkan kebahagiaan orang lain

Aku tersadar, aku menyakiti diriku lagi dengan menciptakan cerita tentang kau yang sedang berbahagia dengan yang lain.

Dingin ini, memaksa ku untuk lelah!

Kamis, 16 Mei 2013

*percakapan ringan yang berat : |*


  • *duduk di warung makan di siang terik*
  • a : lah pie nduk? masih ra penakan badan mu?
  • b : mbuhlah mas, se-ora-ora penakan badan lebih ra penakan hati :|
  • a : lah kowe, badan sakit masih ngurusin cinta-cintaan.
  • b : *nyimak* *ketawa kecil*
  • a : nduk..nduk..biar cinta temukan takdirnya sendiri..
  • b : *nyimak lagi* *ketawa sedang*
  • a : lah? pie toh, malah ngekeh, mbuhlah.. sing penting kowe sembuhin hati dulu, perbaikin diri.. nanti kalo udah kabari ya biar tak datangin orang tua kamu terus tak lamar!!!
  • b : *nyimak banget* *diam* *mikir* *natap si b sambil ketawa kenceng-kenceng*
  • a : *speechless* *ikutan ketawa* *bingung*
  • kemudian a dan b berlalu arah pergi dengan meninggalkan dialog singkat yang menusuk.. lah ini apa? ra paham!!

Jumat, 10 Mei 2013

Cerpen : Jadilah Seperti Kaktus

Sebut saja namanya Andin, seorang gadis periang, tinggal dengan seorang nenek yang sudah berumur 70 tahun. Ayah dan Ibunya telah lama berpisah sejak ia berumur 13 tahun. Bukankah menyakitkan? Di saat dia masih ingin di peluk  dan kasihi dengan kasih orang tuanya, dia tak sempat merasakan indahnya hidup dengan keluarga bahagia. Ayahnya telah lama berumah tangga lagi dengan wanita lain. Sedangkan Ibunya telah lama bekerja di luar negri. Sampai saat ini, raga Andin baik-baik saja namun hati dan perasaannya begitu telantar. Malam ini Andin sendiri, mengingat satu tahun silam. Tepatnya di hari ia merayakan ulang tahunnya bersama nenek yang ia cintai.

"Selamat ulang tahun yang ke 19 tahun, sayang". Nenek mengucapkan sambil memberi Andin hadiah sebuah baju rajutan.
Entahlah setiap Ulang Tahun rasanya Andin selalu saja menerima hadiah yang tak terlewatkan oleh neneknya yang ia sayangi. Hadiah yang sama. Sebuah rajutan, entah itu dalam bentuk baju, syal, atau lainnya. Sampai Andin hafal betul, ciri khas rajutan neneknya. Malam ini Andin memeluk erat-erat seluruh hadiah yang ia dapati dari neneknya. Ada delapan rajutan berarti ada delapan hadiah yang Andin dapat sedari ia berumur 13 sampai dengan 19 tahun.

Dua belas jam yang lalu....


Ini adalah pertama kali di dalam hidup Andin, mempunyai seorang kekasih. Tio sebut saja, laki-laki yang cukup gagah ini adalah pacar Andin yang pertama. Betapa tidak senangnya Andin, setelah lama sendiri ia mempuyai seseorang yang dapat dijadikan dia sahabat sekaligus tempat dia berkeluh kesah. Sudah dua bulan Andin menjalani jalinan cinta ini. Dan ini adalah ulang tahun Andin yang pertama kali. Di umurnya yang mnginjak 20 tahun. Andin dan Tio berencana untuk merayakannya bersama di sebuah cafe. Dan ini juga yang pertama dia melewati ulang tahun tanpa neneknya.

"Ndin, plis percaya gue". Dika mengirimkan pesan singkat untuk Andin
"Plis juga dik, jangan bikin kacau hari lahir gue. Gue gak pengen denger yang aneh-aneh". Andin membalasnya.
"Terserah elo, gue cuma gak mau lo kenapa-kenapa." Balas Dika 
 
Dika merupakan sahabat Andin, semenjak ia berumur 9 tahun. Sudah lama Dika sebenarnya menaruh rasa untuk Andin hanya saja dia diam selama ini. Dika cukup menikmati persahabatannya, namun semuanya berubah ketika Andin berpacaran dengan Tio.  Karena khawator dengan sms dari Dika. Andin coba mengubungi Dika.

"Kamu dimana?"
"Lagi di jalan nih, sabar ya"
"Udah dua jam yo,  kenapa lama banget?"
"Ia aku ada urusan bentar"
"Yaudah, aku tunggu kamu"
Andin menutup telfonnya. Sudah dua jam lagi berlalu. Pukul sudah menunjukkan jam 10 malam. Andin masih menunggu. Tak lama telfon berdering. Bergegas Andin mengangkatnya.

"Halo"
"Kapan pulang, nak?"
"Yah, aku kira siapa ternyata nenek. Mungkin masih lama nek"
"Cepet pulang ya nak, ada yang nenek mau sampaikan"
"Mau ucapin selamat ulang tahun ya? yaudah nek, sekarang aja gapapa. Paling juga hadiah nenek rajutan lagi. Aku lagi nungguin Tio nih nek, siapa tahu dapat hadiah yang lebih kece"
"oh yasudah, selepas itu langsung pulang ya"
"Okee nek"
 Sudah pukul 23.00 . Tio masih juga belum datang. Muncul seorang pria dari sudut pintu menghampiri Andin. Dan ternyata bukan Tio, melainkan Dika. 

"Lo ngapain kesini Dik?"
"Jemput elo, udah malam. Kita pulang"
"Gak. Gue masih nunggu Tio"
"Ah. Ngapain lo nungguin orang yang udah nelantarin elo"
"Dia janji bakal datang kok"
"Seperti janji bokap atau nyokap lo yang bakal mau ngurusin elo? Tapi mana?"
"Dik..."
"Udahlah. Ayuk!"

Dika memaksa Andin pergi dari cafe itu. Akhirnya mereka beranjak keluar. Dengan perasaan yang gusar sambil menahan tangis. Andin coba menahan, namu seketika pecah. Dalam perjalanan pulang Andin melihat Tio sedang memegang mesra tangan wanita lain.  Tanpa perasaan bersalah Tio hanya melewati Andin dengan  mimik wajah yang biasa-biasa saja. Seolah tak terjadi apa-apa. Andin berlari kencang meninggalkanj pemandangan yang tidak sedap tadi. Lalu Dika ikut menyusul. Andin berlalri menuju arah pulang rumah. Seketika ia melihat neneknya yang sedang tergeletak di depan pintu rumah. Ia melihat kue ulang tahun dan lilin-lilin yang mulai redup dan meleleh. Dan juga sebuah bingkisan kado. Ia berlalri menuju neneknya dan berusaha membangunkannya. Tetapi Tuhan berkata lain, neneknya telah di jemput oleh malaikat menuju singgahsana lain. Tempat peristirahatan abadi. Kemudian dia membaca surat singkat dari neneknya. Sebuah pesan yang sampai saat ini membuat ia selalu bangkit ketika terjatuh. Ia lihat bingkisan kado itu bukan lagi sebuah rajutan. Tapi sebuah tanaman kaktus.

"Jadilah seperti kaktus, cantik namun tidak lemah... Mampu bertahan dengan atau tanpa air...seperti hidup yang terus berputar... Terkadang beruntung, bahagia, namun tak jarang sangat memilukan... Apapun itu tetap bersyukur dan bertahan menghadapi ujian hidup...Selamat ulang tahun, selamat berjuang"


*cerpen pertama edisi mei 2013*  *terinpirasi ketika nyiram kaktus di kos*
 

"