Sebut saja namanya Andin, seorang gadis periang, tinggal dengan seorang nenek yang sudah berumur 70 tahun. Ayah dan Ibunya telah lama berpisah sejak ia berumur 13 tahun. Bukankah menyakitkan? Di saat dia masih ingin di peluk dan kasihi dengan kasih orang tuanya, dia tak sempat merasakan indahnya hidup dengan keluarga bahagia. Ayahnya telah lama berumah tangga lagi dengan wanita lain. Sedangkan Ibunya telah lama bekerja di luar negri. Sampai saat ini, raga Andin baik-baik saja namun hati dan perasaannya begitu telantar. Malam ini Andin sendiri, mengingat satu tahun silam. Tepatnya di hari ia merayakan ulang tahunnya bersama nenek yang ia cintai.
"Selamat ulang tahun yang ke 19 tahun, sayang". Nenek mengucapkan sambil memberi Andin hadiah sebuah baju rajutan.
Entahlah setiap Ulang Tahun rasanya Andin selalu saja menerima hadiah yang tak terlewatkan oleh neneknya yang ia sayangi. Hadiah yang sama. Sebuah rajutan, entah itu dalam bentuk baju, syal, atau lainnya. Sampai Andin hafal betul, ciri khas rajutan neneknya. Malam ini Andin memeluk erat-erat seluruh hadiah yang ia dapati dari neneknya. Ada delapan rajutan berarti ada delapan hadiah yang Andin dapat sedari ia berumur 13 sampai dengan 19 tahun.
Dua belas jam yang lalu....
Ini adalah pertama kali di dalam hidup Andin, mempunyai seorang kekasih. Tio sebut saja, laki-laki yang cukup gagah ini adalah pacar Andin yang pertama. Betapa tidak senangnya Andin, setelah lama sendiri ia mempuyai seseorang yang dapat dijadikan dia sahabat sekaligus tempat dia berkeluh kesah. Sudah dua bulan Andin menjalani jalinan cinta ini. Dan ini adalah ulang tahun Andin yang pertama kali. Di umurnya yang mnginjak 20 tahun. Andin dan Tio berencana untuk merayakannya bersama di sebuah cafe. Dan ini juga yang pertama dia melewati ulang tahun tanpa neneknya.
"Ndin, plis percaya gue". Dika mengirimkan pesan singkat untuk Andin
"Plis juga dik, jangan bikin kacau hari lahir gue. Gue gak pengen denger yang aneh-aneh". Andin membalasnya.
"Terserah elo, gue cuma gak mau lo kenapa-kenapa." Balas Dika
Dika merupakan sahabat Andin, semenjak ia berumur 9 tahun. Sudah lama Dika sebenarnya menaruh rasa untuk Andin hanya saja dia diam selama ini. Dika cukup menikmati persahabatannya, namun semuanya berubah ketika Andin berpacaran dengan Tio. Karena khawator dengan sms dari Dika. Andin coba mengubungi Dika.
"Kamu dimana?"
"Lagi di jalan nih, sabar ya"
"Udah dua jam yo, kenapa lama banget?"
"Ia aku ada urusan bentar"
"Yaudah, aku tunggu kamu"
Andin menutup telfonnya. Sudah dua jam lagi berlalu. Pukul sudah menunjukkan jam 10 malam. Andin masih menunggu. Tak lama telfon berdering. Bergegas Andin mengangkatnya.
"Halo"
"Kapan pulang, nak?"
"Yah, aku kira siapa ternyata nenek. Mungkin masih lama nek"
"Cepet pulang ya nak, ada yang nenek mau sampaikan"
"Mau ucapin selamat ulang tahun ya? yaudah nek, sekarang aja gapapa. Paling juga hadiah nenek rajutan lagi. Aku lagi nungguin Tio nih nek, siapa tahu dapat hadiah yang lebih kece"
"oh yasudah, selepas itu langsung pulang ya"
"Okee nek"
Sudah pukul 23.00 . Tio masih juga belum datang. Muncul seorang pria dari sudut pintu menghampiri Andin. Dan ternyata bukan Tio, melainkan Dika.
"Lo ngapain kesini Dik?"
"Jemput elo, udah malam. Kita pulang"
"Gak. Gue masih nunggu Tio"
"Ah. Ngapain lo nungguin orang yang udah nelantarin elo"
"Dia janji bakal datang kok"
"Seperti janji bokap atau nyokap lo yang bakal mau ngurusin elo? Tapi mana?"
"Dik..."
"Udahlah. Ayuk!"
Dika memaksa Andin pergi dari cafe itu. Akhirnya mereka beranjak keluar. Dengan perasaan yang gusar sambil menahan tangis. Andin coba menahan, namu seketika pecah. Dalam perjalanan pulang Andin melihat Tio sedang memegang mesra tangan wanita lain. Tanpa perasaan bersalah Tio hanya melewati Andin dengan mimik wajah yang biasa-biasa saja. Seolah tak terjadi apa-apa. Andin berlari kencang meninggalkanj pemandangan yang tidak sedap tadi. Lalu Dika ikut menyusul. Andin berlalri menuju arah pulang rumah. Seketika ia melihat neneknya yang sedang tergeletak di depan pintu rumah. Ia melihat kue ulang tahun dan lilin-lilin yang mulai redup dan meleleh. Dan juga sebuah bingkisan kado. Ia berlalri menuju neneknya dan berusaha membangunkannya. Tetapi Tuhan berkata lain, neneknya telah di jemput oleh malaikat menuju singgahsana lain. Tempat peristirahatan abadi. Kemudian dia membaca surat singkat dari neneknya. Sebuah pesan yang sampai saat ini membuat ia selalu bangkit ketika terjatuh. Ia lihat bingkisan kado itu bukan lagi sebuah rajutan. Tapi sebuah tanaman kaktus.
"Jadilah seperti kaktus, cantik namun tidak lemah... Mampu bertahan dengan atau tanpa air...seperti hidup yang terus berputar... Terkadang beruntung, bahagia, namun tak jarang sangat memilukan... Apapun itu tetap bersyukur dan bertahan menghadapi ujian hidup...Selamat ulang tahun, selamat berjuang"
*cerpen pertama edisi mei 2013* *terinpirasi ketika nyiram kaktus di kos*
"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar